Category Archives: The O Interview

The O Interview

“The Dessert King” Kebanggaan Indonesia : “The Dessert King” The Pride of Indonesia
Featured Articles
December 7, 2015 posted by Ozip Team

“The Dessert King” Kebanggaan Indonesia : “The Dessert King” The Pride of Indonesia

Bisa dibilang bahwa Reynold Poernomo adalah penampil yang paling ditunggu-tunggu di ajang Wonderful Indonesia Festival 2015. Sejak pagi, berbondong-bondong Melbournians sengaja datang menjumpai Reynold untuk bertegur sapa hingga mengajak berfoto bersama. Tidak hanya kaum wanita, bahkan anak-anak pun banyak yang menjadi fans berat Chef yang dijuluki sebagai “The Dessert King” ini. (more…)

Indonesia Beruntung Bisa Bertetangga dengan Australia
Featured Articles
March 9, 2015 posted by Ozip Team

Indonesia Beruntung Bisa Bertetangga dengan Australia

Ahmad Almaududy Amri

Presiden PPIA Pusat 2014-2015

Ahmad Almaududy Amri, akrab disapa Dudy, terpilih sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Pusat pada Kongres PPIA XXI, 18-20 Juli 2014 di Brisbane. Dudy adalah diplomat muda yang bekerja bekerja di Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia. Sebelum bergabung dengan Kemlu, ia sempat menjadi pengacara junior di MR & P Law Firm, Jakarta. Ia adalah lulusan termuda angkatan XXXV Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Meraih gelar sarjana hukum dari USU, ia kemudian mendapatkan dua gelar master di bidang hukum dan hubungan internasional dari UGM dan UI.
(more…)

Interview with GM Garuda Indonesia-Melbourne – Bobby Rusyandi
Featured Articles
March 19, 2014 posted by Ozip Team

Interview with GM Garuda Indonesia-Melbourne – Bobby Rusyandi

Bagi orang Indonesia, Melbourne adalah salah satu tujuan paling menarik untuk mengenyam pendidikan maupun memulai karier. Dengan populasi warga Indonesia yang meningkat tiap tahunnya, Melbourne telah menjadi salah satu pusat untuk kegiatan warga Indonesia di Australia. Berbagai macam kegiatan mulai dari seni tari, parade, hingga kegiatan olah raga seperti sepakbola telah sering diadakan dari dan untuk warga Indonesia di Melbourne. (more…)

Womenpreneur Special : Nina Moran
Featured Articles
March 19, 2014 posted by Ozip Team

Womenpreneur Special : Nina Moran

Nama Nina Moran di kalangan media Indonesia sudah dikenal sejak lama, ketika ia bersama kedua orang adiknya (waktu itu mereka masih berusia 25, 22, dan 18 tahun) dengan nekat mendirikan media cetak majalah remaja baru di tahun 2005: Gogirl! Namun di tahun 2013, kemampuannya untuk mempertahankan keeksisan bisnis majalahnya membuatnya diganjar salah satu penghargaan untuk wanita pengusaha Indonesia yang paling prestisius: Ernst & Young Indonesia Entrepreneurial Winning Women 2013.

Di kompetisi yang juga dilakukan E&Y di 50 negara lainnya ini, Nina harus bertanding dengan tujuh orang finalis lainnya. Sebelumnya, delapan orang finalis ini telah terpilih dari 30 kandidat awal. Untuk bisa berkompetisi dalam penghargaan ini, pengusaha wanita tersebut harus bisa menunjukkan keuntungan minimal Rp 10 miliar dalam setahun.

Penghargaan ini diberikan untuk memberikan akses kesempatan dan pelatihan yang lebih besar kepada pengusaha wanita Indonesia. Saat ini, menurut Sinta Widjaja Kamdani, salah satu juri kompetisi ini, kaum perempuan yang berwirausaha menghadapi tantangan besar dan secara umum masih kesulitan akses pasar, modal dan pendidikan. “Mereka perlu peningkatan kapasitas supaya bisa meningkatkan keterampilan dasar bisnis mereka. Akses pembiayaan juga sangat kurang. Perempuan yang ingin mengajukan pinjaman ke bank masih menemui masalah,” jelas Sinta. (more…)

Fashion Special Feature Story  Nina Nikicio: Desainer Muda Berbakat Indonesia
Featured Articles
December 15, 2013 posted by Ozip Team

Fashion Special Feature Story Nina Nikicio: Desainer Muda Berbakat Indonesia

By Dyota Maitri

Photographs by Dyota Maitri

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERADitengah hiruk pikuk dunia fashion Indonesia, desainer muda berbakat Nina Nikicio datang dan ikut meramaikan industri mode bersama label andalannya NIKICIO. Berbagai penghargaan pun sudah ia dapatkan mulai dari Most Watched Designer of the Year by Elle Magazine Indonesia 2009, Best Young Indonesian Designer of the Year by Elle Magazine Indonesia 2010 sampai yang terakhir adalah The Fashion Machine by Rolling Stones Indonesia.

 

Keseriusannya dalam menekuni dunia fashion dapat terlihat dari berbagai studi fashion yang selama ini ia ambil. Setelah kembali dari sekolah Fashion Design di Lasalle College Singapura, pada tahun 2007 Nina memutuskan untuk mengambil studi Fashion Business di Jakarta sembari mendirikan label NIKICIO. Lulus dari Diploma Fashion Business tidak menghentikan Nina untuk melanjutkan sekolah. Saat ini, ia tercatat sebagai sebagai salah satu mahasiswi RMIT University dengan jurusan Fashion dan Textile Merchandising.

 

“Sejak SMP aku udah mulai suka fashion, tapi benar-benar into fashion saat belajar fashion pertama kali di Singapura. I got to learn more about fashion, its history, the making, and such thing. Now I feel like I have to the business side of fashion, and you know that the more you learn about something, the more you’ll fall in love with it,” ungkap wanita kelahiran 1985 ini mengenai awal kesukaannya terhadap fashion.

 

Dengan rancangannya yang terbilang sederhana namun tetap elegan, Nina berhasil membawa namanya sejajar dengan desainer-desainer besar di Indonesia. Ia mengakui bahwa konsep utama dari NIKICIO sendiri adalah menciptakan sesuatu yang siap pakai dan tidak termakan oleh waktu maupun gaya.

 

“I wanna make something that transcends time. I honestly don’t really like the concept of fast-fashion, you know when you buy some stuff and you’d just throw them away in the next three months because it’s not in the trend anymore,” ujar Nina.

 

NIKICIO tahun ini resmi menjalin kerjasama dengan department store Goods Dept di Jakarta, dimana mereka fokus pada mekanisme bisnis sedangkan Nina menggarap desain dan pembuatan baju selagi menjalani studinya di Melbourne. Koleksi Fall/Winter 2013 yang dipamerkan di Kemang bulan Juli lalu pun menjadi proyek pertama NIKICIO dan Goods Dept. Ketika ditanya apa yang menginspirasinya dalam merancang busana, Nina dengan santai menjawab rutinitas pagi dan traveling.

 

“Di koleksi yang terbaru, ide dan inspirasinya datang dari personal photo collection gue waktu liburan ke New Zealand. Suka banget sama foto-fotonya, karena semua pemandangan di sana bagus, kebanyakan warnanya hijau, kuning, dan biru.”

 

Ketika bangun tidur setiap pagi dan melihat koleksi fotonya yang terpajang di dinding, Nina merasa terinspirasi untuk membuat baju dengan mengambil warna dan pola dari apa yang ia lihat tersebut.

 

“Inspirasi gue sebenarnya nggak pernah yang macam-macam. Something that is personal that you could easily relate to. And it’s just as simple as your morning routines,” kata Nina.

 

NIKICIO merupakan karya anak bangsa yang menampilkan konsep beda dari yang lain: tidak terbatas pada waktu, musim, ataupun gender. Dengan mengusung tema personal, classy namun tetap wearable, NIKICIO diharapkan dapat terus meramaikan dunia fashion Indonesia dan juga internasional.

 nikicio-fw-13-14-741666 nikicio-fw-13-14-820646 nikicio-fw-13-14-911022
Fashion Special Feature Story : Interview with a Fashion Design Student
Featured Articles
December 15, 2013 posted by Ozip Team

Fashion Special Feature Story : Interview with a Fashion Design Student

Yori Atira, atau yang akrab disapa Yori, adalah salah satu pelajar Indonesia di Australia yang memilih jurusan Fashion Design sebagai jurusan kuliah Bachelor Degree-nya di RMIT. Ozip diberi kesempatan khusus untuk berbincang-bincang dengan gadis ini di sela-sela kesibukannya.

 

Memang sudah dari dulu, Yori mempunyai ketertarikan dengan fashion design dan industrinya. Menurutnya, passion dia memang ada di dalam bidang design dancreative directing. Oleh karena itu, dia memilih jurusan fashion design karena hanya di jurusan ini saja Yori merasa bisa mengembangkan passion tersebut.

 

Ketika ditanya mengenai reaksi orang-orang disekitarnya mengenai kenapa Yori memilih jurusan fashion design, dia mengaku bahwa reaksi mereka berbeda-beda. “Beberapa dari mereka sangat mendukung pilihan aku, tapi beberapa juga ada yang mempertanyakan alasan kenapa aku mau menghabiskan waktu selama empat tahun untuk belajar fashion,” papar gadis cantik ini. “Kebanyakan orang merasa kalau pelajaran fashion itu cuma main-main dan hura-hura aja, padahal sebenarnya jurusan ini tidak mudah sama sekali lho,” sambungnya.

 

Menurut Yori, kuliah di bidang fashion itu adalah bidang yang paling menyenangkan tapi juga paling susah dan berat pada saat yang bersamaan. Cakupan ilmu yang harus dipelajari luas sekali. Contohnya, di tahun pertama kuliah, semua pelajar harus mempelajari basic garment contructions, textile, fashion business  dan harus bisa menghasilkan konsep untuk koleksi desain ke depannya.

 

Nah baru di semester berikutnya, para pelajar bisa memilih arah yang mereka suka di bidang teknik desain dan konsep. Jurusan ini memang lebih ke proyek desain setiap bulannya daripada ujian di akhir semester. Oleh karena itu di setiap semesternya mereka akan diminta untuk membuat konsep sampai akhirnya bisa terbentuk sebuah pakaian dan mempublikasikannya ke masyarakat.

 

Ketika Yori ditanya mengenai apa sih hal terbaik dari sekolah fashion, dia mengaku bahwa bisa mendapatkan akses ke berbagai macam studio, dimana mereka bisa banyak belajar teknik desain dengan berbagai konsep.

 

Yori sendiri di semester lalu sempat mengambil pelajaran fashion filming. Semua proyek ini akan membantunya untuk berpikir lebih cepat tentang  mengenai cara terbaik menangani sebuah proyek. Untuk hal paling tidak disukainya dari sekolah desain sendiri adalah terlalu banyak yang ingin dilakukan tapi hanya ada sedikit waktu untuk menyelesaikan apa yang mau dikerjakan.

 

Untuk fashion designer sendiri Yori sangat mengidolakan Rei Kawakubo dan Martin Margiela karena dia suka sekali dengan keindahan dan filosofi dari desain mereka dan juga cara dua desainer ini bekerja. Fashion magazine favorit Yori sendiri adalah I Love You karena menurut dia setiap issue mempunyai editorial yang sangat menarik.
Rencana gadis manis ini setelah lulus adalah untuk mulai bekerja atau magang dengan beberapa desainer lokal sebanyak mungkin. “Aku sangat tertarik di bidang film dan creative directing di fashion. Untuk jangka panjangnya, aku inginapproach fashion sebagai proyek desain, daripada membuat label fashion yang mengeluarkan koleksi baru untuk setiap musim,” ujarnya menutup pembicaraan.

 

DEFORME3 DEFORME2 DEFORME1 BURGLAR_FILMSTILL3

BURGLAR_FILMSTILL1 BACKWOODS_SKIRT BACKWOODS_JACKET yori

Featured Articles
December 13, 2013 posted by Ozip Team

The O Interview with KJRI Consuls

#1: Wirawan Kartono, Konsul Muda/Sekretaris II (Protokol & Konsuler) di KJRI Melbourne

Wira1Mulai edisi ini, OZIP akan mewawancarai para petugas yang bertugas di KJRI Melbourne. Selain mengenalkan para pembaca secara lebih dalam kepada para petugas yang menjalani pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di Victoria (dan Tasmania), juga agar para pembaca tahu siapa yang perlu dihubungi sesuai dengan kebutuhan para pembaca OZIP.

Pembaca, tentu sering membaca kolom KJRI di majalah OZIP kan? Nah, menyebarkan informasi pelayanan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan menjadi warganegara Indonesia di Melbourne menjadi salah satu tanggung jawab Wirawan Kartono. Beliaulah yang seringkali menyiapkan tulisan untuk kolom KJRI di majalah ini.

Sebagai seorang Konsul Muda/Sekretaris II di bidang Protokol & Konsuler, bapak dua anak yang akrab dipanggil Pak Wira ini berkutat dengan urusan keprotokolan, keimigrasian, dan perlindungan terhadap warga negara Indonesia di wilayah Victoria.

Di bidang protokoler, ia menjalani tugas fasilitasi protokol bagi para delegasi pemerintah Indonesia yang hendak bertemu mitra kerja di Victoria dan Tasmania.

Sementara di bidang keimigrasian mencakup berbagai isu mulai dari visa, paspor, lapor diri, legalisasi, surat kuasa, dan surat keterangan barang untuk dikirim ke Indonesia.

Di bidang perlindungan WNI, yang paling menarik, adalah ia harus menjalankan tugas perlindungan terhadap WNI yang mengalami permasalahan hukum. Ia harus memberikan pendampingan sekaligus memastikan WNI telah mendapatkan hak-hak hukumnya selama menjalani proses hukum yang berlangsung di Australia.

“Keseluruhan rutinitas pekerjaan menimbulkan dimensi unik tersediri, karena kita harus terus mengedepankan asas kepedulian dan keberpihakan, terutama jika menangani kasus WNI kita yang menghadapi permasalahan hukum, mengingat cukup tingginya kasus-kasus yang kita tangani. Hingga pertengahan tahun 2013 ini saja, kita menangani lebih dari 30 kasus,” ujarnya menjelaskan dinamika sehari-hari pekerjaannya.

Tantangan yang harus dihadapinya antara lain masalah manajemen sumber daya manusia yang optimal. Mengingat bagian ini tidak hanya bertanggungjawab untuk pelayanan kekonsuleran terhadap WNI, tetapi juga kepada para WNA pemohon visa ke Indonesia. Selain itu, kasus-kasus yang harus ditanganinya terdiri dari kasus-kasus penyelundupan manusia dan WNI yang menjadi korban kejahatan. Sementara itu di fungsi konsuler, keprotokolan, imigrasi dan perlindungan, selain Pak Wira, hanya ada 5 orang lainnya yang bertugas: Bu Wita sebagai Konsul Konsuler, tiga orang staff, dan 1 staf magang.

Sebagai salah satu aspek perlindungan yang harus dijalankannya, ia menilai karakteristik masyarakat WNI di Victoria dan Tasmania. Karena hampir seluruhnya berpenddikan tinggi, ia menjalankan upaya perlindungan melalui kegiatan diseminasi informasi kekonsuleran ke berbagai unsur dan kalangan masyarakat, misalnya dalam bentuk dialog interaktif, sehingga memberikan penjelasan dan informasi hal-hal mengenai kekonsuleran.
“Sehingga diharapkan jangan sampai mendapat permasalahan hanya karena ketidaktahuan semata. Kami menyebut hal ini sebagai upaya pencegahan dalam rangka perlindungan terhadap WNI,” ujarnya.

Pak Wira dikenal sebagai salah satu petugas KJRI yang ramah, fleksibel, dan selalu siap membantu. OZIP pernah mendapat kabar anekdot tentang seorang pelajar Indonesia yang tengah berada di Melbourne, dan mendengar kabar bahwa orangtuanya masuk rumah sakit dan keadaannya kritis. Ia harus segera pulang, namun paspornya sedang berada di KJRI. Ia berhasil menghubungi Pak Wira walaupun sedang berada di akhir pekan (dan KJRI tutup), namun Pak Wira tetap mngirim staff untuk mengakses kantornya dan mengatur agar siswa tersebut bisa mengambil passportnya pada saat itu juga. Pelayanan yang seperti inilah, yang sensitif dan penuh empati, memahami nuansa dan saat-saat genting yang dihadapi WNI, yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia di Melbourne, dan hal inilah yang dilakukan oleh Pak Wira.

“Pengalaman selama tugas penempatan di KJRI Melbourne merupakan salah satu pengalaman yang sangat berkesan karena menangani permasalahan di bidang keprotokolan, keimigrasian dan perlindungan WNI yang sebelumnya belum pernah saya tangani dan pelajari karena diharuskan untuk berurusan dengan hal-hal teknis dan kemanusiaan di lapangan sehingga solusi yang diberikan tidak hanya berdasarkan pada rasio dan analisa semata namun juga harus memperhatikan aspek kemanusiaan yang tetap berada dalam jalur ketentuan yang berlaku sesuai dengan arahan dari Menteri Luar Negeri agar berpegang pada asas kepedulian dan keberpihakan dalam menjalankan tugas perlindungan.  Hal tersebut membuat saya harus banyak-banyak belajar dari berbagai sumber agar dapat melaksanakan tugas yang dipercayakan di KJRI Melbourne.

 

“Penugasan di Melbourne juga membuat saya bersyukur karena ketika di tempatkan di bidang yang benar-benar baru dengan isu dan suasana pekerjaan yang jauh berbeda dengan tugas-tugas saya sebelumnya melengkapi pengalaman saya di Kementerian Luar Negeri yang menurut pimpinan saya harus dimiliki dalam menjalani karir di Kemlu, yaitu di bidang diplomasi multilateral, diplomasi bilateral dan yang terakhir adalah menjadi pamong yang baik untuk mengayomi, melindungi dan selalu siap untuk membantu warga Indonesia yang berada di luar negeri, “ kata Pak Wira menjelaskan panjang lebar kesannya akan tugas yang diembannya di Melbourne.

 

Mungkin etos kerjanya yang baiklah yang membuat karirnya berjalan dengan mulus dan ia sudah menangani banyak hal semenjak pertama kali diterima menjadi pegawai Kemlu setelah terkesan dengan pribadi Marty Natalegawa yang diwawancarainya dalam pekerjaannya sebelumnya, ketika ia menjadi seorang jurnalis junior di SCTV.

Ya, sebelum menjadi pegawai Kemlu, ia sempat menjadi jurnalis junior di SCTV. Kisahnya bermula ketika ia mengambil jurusan Ilmu Hukum program kekhususan Hukum Internasional di Universitas Padjajaran. Sekitar 6 bulan sebelum lulus, ia telah mengirimkan banyak lamaran ke berbagai firma hukum yang menangani kasus perdata internasional dan berbagai perusahaan lainnya. Karena ia belum lulus, hanya SCTV yang memanggilnya untuk tes awal. Ia pun diterima dan memutuskan bergabung untuk mencari pengalaman kerja sebagai jurnalis di Liputan 6 SCTV. Selama menjalani pekerjaan itu, ia ditempatkan di berbagai newsdesk yang berbeda, mulai dari desk kriminal, ekonomi, sampai meliput isu politik. Kinerjanya yang bagus ketika dilibatkan dalam pemberitaan bom Kuningan membuatnya segera dipindahkan ke desk ekonomi hanya setelah 1 bulan di desk kriminal (biasanya 6 bulan di desk kriminal).

Ketika sedang ditugaskan untuk mewawancarai juru bicara Kemlu, yang waktu itu dijabat oleh Marty Natalegawa itulah Pak Wira mulai penasaran dengan Kemlu. “Saya ketika itu langsung datang ke kantor Kemlu di jalan Pejambon dan di meja resepsionis menyampaikan ingin mewawancarai Jubir Kemlu serta sudah siap untuk mendapat penolakan wawancara.  Namun, tidak disangka, oleh Pak Marty saya hanya diminta untuk menunggu sekitar 10 menit di ruangan beliau di lantai 2 yang kemudian hari saya ketahui merupakan ruangan Dirjen Kerjasama ASEAN.  Profesionalitas beliau dan sikap tanggap terhadap media memberikan kesan mendalam terutama kepiawaian beliau dalam menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan membuat saya lebih ingin mencari tahu mengenai Kemlu,” ceritanya. Menyadari adanya keterkaitan antara latar belakang pendidikannya di bidang ilmu Hukum Internasional dengan keahlian yang dibutuhkan Kemlu, ia pun mengikuti seleksi penerimaan pegawai Kemlu, diterima, dan sudah menjalani berbagai penugasan.

Walaupun penugasan penempatan di Melbourne adalah untuk yang pertama kalinya, namun ia sudah menjalani berbagai penugasan lainnya di berbagai negara di belahan dunia. Antara lain, tugas belajar di Jepang, menempuh gelar Master Ilmu Hukum di Universitas Kyushu, Fukuoka, dengan thesis bertema hukum laut yang berjudul “Kegiatan Militer di Zona Ekonomi Eksklusif.” Ia juga pernah tugas belajar di Italia untuk kursus hukum perang selama 2 minggu di International Institute of Humanitarian Law, San Remo, magang sebagai Atase Diplomatik di KBRI Washington DC, dan menghadiri berbagai konferensi di Amerika Serikat, Cina, Kenya, Malaysia dan Singapura.

 

Pengalaman yang paling berkesan untuk Pak Wira sendiri adalah ketika ia diberikan kepercayaan untuk menjadi juru runding mewakili dan memimpin delegasi Pemerintah Indonesia pada saat melakukan negosiasi naskah Project Document UNDP sebagai pelaksanaan Sulu-Celebes Sea Sustainable Fisheries Management dalam salah satu pertemuan Sub Committee on Sustainable Fisheries of Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion.

 

Pertemuan tersebut adalah perundingan rencana kerjasama di wilayah Laut Sulu dan Sulawesi yang diikuti oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, dan didanai oleh badan PBB, UNDP. “Hal tersebut berkesan karena saya merupakan anggota delegasi yang paling muda tapi diminta untuk memimpin delegasi serta melakukan negosiasi langsung perumusan naskah dengan mitra dari Malaysia, Filipina dan UNDP. Tentu saja dalam mengemban tugas tersebut, saya berpegang pada pedoman dan arahan yang telah diberikan oleh pimpinan di Jakarta,” kenangnya.

 

Pekerjaannya saat bertugas di kantor pusat Kemlu di Jalan Kejambon, memang termasuk sebagai Kepala Seksi yang menangani isu perjanjian kelautan di Direktorat Perjanjian Internasional. Ini adalah pekerjaannya yang terakhir sebelum ditugaskan di Melbourne. Ketika itulah ia banyak mendapatkan pengalaman kerja yang terkait dengan proses pembuatan naskah perjanjian internasional dan kerjasama antara Indonesia dan negara lain di dalam pemanfaatan sumber daya laut Indonesia. “Tugas saya adalah memastikan suatu kerjasama yang terjalin memenuhi unsur-unsur mengakomodir kepentingan nasional, membawa manfaat bagi rakyat Indonesia, serta sesuai dengan tata ketentuan teknis naskah perjanjian internasional, baik dalam kerangka hukum internasional maupun hukum nasional,” katanya. Selain di bagian itu, ketika bertugas di Indonesia ia juga pernah berada sebagai staf di Juru Bicara Kemlu.

 

Selama bertugas, nasihat terbaik yang pernah didapatkannya dalam karir justru didapat dari atasannya di KJRI Melbourne, Konsul Jenderal Irmawan Emir Wisnandar. “Bapak Konsul Jenderal sendiri yang mengajarkan untuk bekerja sebaik-baiknya dalam mengemban amanat yang dipercayakan dan tidak mudah patah semangat ketika mengalami berbagai hambatan serta kesulitan karena ketika kita menghadapi pintu yang tertutup berarti telah ada pintu lain yang terbuka untuk menempuh jalan baik yang telah digariskan,” ceritanya. Pak Wira menjelaskan hikayat buah berry hitam yang dijelaskan oleh atasannya tersebut. Menurutnya, seperti buah berry hitam, kita harus pandai bersyukur atas segala kemampuan yang dimiliki dan sebisa mungkin berinovasi untuk mengembangkan kemampuan diri ke arah yang lebih baik lagi serta jangan membandingkan dengan orang lan. “Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan sendiri. Tidak berarti milik pihak lain membawa kebaikan bagi kita,” ujarnya.

 

Satu hal yang juga sangat disyukuri oleh Pak Wira adalah keberadaan istri dan anak-anaknya semasa penugasan di Melbourne. Untuk menjaga hubungan dengan keluarga, sebisa mungkin ia mengatur waktu untuk mempunyai kesempatan yang cukup untuk bersama keluarga, mulai dari main video game sampai menonton film bersama-sama. Selama ini, tidak ada kesulitan berarti yang harus dialami Pak Wira dalam memberi pengertian kepada keluarga terhadap kehidupan nomaden yang dijalaninya sebagai konsekuensi pekerjaannya. Suami dari Iko Tamliha ini mengaku beruntung memiliki istri yang selalu setia mendampingi dan bersabar dalam menghadapi berbagai hal baru yang sebelumnya tidak disangka-sangka. Sebagai pasangan suami istri, mereka selalu berusaha menikmati berbagai pengalaman baru yang diterima. Kehidupan nomaden dilihat Pak Wira hanyalah sebagai sesuatu yang patut disyukuri, karena itulah kesempatan yang dimiliki untuk dapat mengalami berbagai masa kehidupan dan pengalaman di belahan dunia yang berbeda, yang membuat kita merasa menjadi warga dunia dan memperkaya pengalaman.

 

“(Lewat) hal tersebut, diharapkan dapat memberikan sudut pandang bahwa manusia diciptakan berbeda-beda tapi seharusnya kita saling mengenal. Berbagai perbedaan itu justru merupakan sesuatu yang harus dihargai dan bukannya dipersengketakan. Tentu saja pesan-pesan ini disampaikan secara implisit, melalui komunikasi rutin dalam suasana yang rileks kekeluargaan. Untuk anak, karena dua anak saya masih kecil, jadi saat ini tidak mengalami kesulitan untuk memberikan pengertian. Walaupun saya sadari untuk ke depannya, ketika anak-anak sudah cukup besar, saya harus tetap memberikan pengertian yang mendalam, apalagi kalau anak-anak sudah mulai menginjak remaja,” ujar ayah dari Gibraltar Wirawan (6 tahun) dan Aldebaran Wirawan (3 tahun) ini.

  wira3 wira4
PROJECT O GUEST STARS INTERVIEW
Featured Articles
December 5, 2013 posted by Ozip Team

PROJECT O GUEST STARS INTERVIEW

Teks: Dyota Maitri

Foto: An Geum San

 

Q & A with Amistat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

1.            Could you tell me a little bit about yourself? Where are you from and what are your roles in the band?

 

Josef: We’re twins and we grew up in Germany. I moved to Australia like a year and half ago, Jan moved here about six months ago. We make music together and we both play guitar and piano. So we’re an acoustic duo. We don’t really have a lead singer, because sometimes I sing the main part, and sometimes Jan does.

 

2.            Could you tell me about you as a duo? How long have you been playing for?

 

Jan: I started singing when I was 13 years old, and not long after that Josef started singing along with me. We then stopped doing music and did our own stuff when we finished studying. Josef went traveling and stayed in Australia, I went back home and did music with my band in Germany. And we kind of missed making music together, cause it’s different with your brother. So, we decided to make music together again, and start the whole thing together.

 

3.            I caught you several times busking in the city and drawing impressive crowds, I was just curious, how did you first get involved with busking in Melbourne?

 

Josef: When I first came here about summer last year, I was busking alone and I had a small set up in front. I made like 4 dollars, and that was my first day busking. And then Jan came here and we got a bigger set up, and we started busking on Southbank, in front of the library, and on Bourke St Mall. It’s been great busking with your own brother and knowing that a lot of young people are watching us and listening to our music.

 

4.            How is busking different from playing a music show in a music venue?

 

Jan:  You play all of the songs at least 5 times a day. You really put everything in when you play the first few songs. And then at the end of the day, when it gets to the fifth times, you’re starting to lose the spirit. And if nobody’s listening, it’s kind of frustrating and you start to feel “okay, this doesn’t feel so good”. While when you’re doing a show, people mostly know you and they are there because of you, so you can just relax and play the songs.

 

Josef: With busking, people don’t buy tickets, if they like it, they will stop and watch you, but if they don’t like it, they’ll just keep going. But it gives you more freedom, you can arrange your own set-list and time to perform.

 

5.            How would you describe you busking or stage presence?

Jan: People keep telling us that we’re funny when we talk, I don’t know why, maybe because of our accent. And we love telling stories when we perform, so people tend to listen to us more when we tell a story before playing a song. It’s not like a big show where people jumping and screaming. They would just stand or sit down and listen to us.

 

6.            Is there any particular difficulty that you face with busking?

Josef: You just get annoying people sometimes. They’re drunk and screaming at you and throwing things.

 

Jan: And we just usually ignore it, keep calm, close our eyes and be in the zone, thinking that they’re going to walk away.

 

7.            You’ve released your debut EP, called ‘It’s not Words’, could you tell me more about it?

Jan: In Germany I was writing songs on my own, and Josef did the same thing here, and Josef showed me some of his songs and I did some of mine too. And it was the hardest part, I kind of felt like killing him at that time, haha. Because I didn’t like his songs and he also didn’t like any songs that I wrote too, so we thought we had to figure the way out, otherwise I’m gonna go back to Germany. And we decided to write our first song together from there and we picked the best 5 songs to be on the EP, and named it “It’s Not Words”.

 

8.            Could you give us your thoughts on Project O?

 

Josef: It’s great, I mean we should always help people who aren’t lucky as you are. So, some people are born in other parts of the world with little possibilities to do the things that they want, so we’re here to support those people with music. We gotta enjoy the sun today, share the moment with other musicians, like Woodlock and Fox + Sui, and of course with the audience today.

 

9.            Do you have any message that you want to give to our readers?

Josef: Just believe in yourself and believe in what you’re doing, whether it’s music or anything, just keep going no matter what people tell you.

Jan: I would say in the future people should be more open to new stuff, and shouldn’t be too focused on something that only because everybody is doing it, you think it’s the right way. Don’t get too focused on money and such, try to enjoy the little things around you.

 

Q&A Fox+Sui

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

1.            Could you tell me a little bit about yourself?

 

Becky: I’m from Sydney and Andy’s from Melbourne. I started things with folk music with the guitar, and I met Andy overseas from the music academy that we were both involved in 2010. So it’s like a program that happens every year, and we didn’t know each other before. But then we got up to each other, we knew we’re both from Australia and we ended up meeting and making music together since that.

 

2.            What made you decide to finally form Fox+Sui? Did it happen instantly?

 

Andy: Yeah. It did, I mean I was making my own tracks that were going be released by myself, and I needed something new like vocals or something, so I sent them to Becky, and she started singing on them and sent it back to me while she was overseas.

 

Becky: For me, with people sending me stuff I kind of can tell instantly if I want to sing on them or not, but with Andy’s, I pretty much want to sing every stuff he’s sent me. His tracks are always easy for me to sing on, I would just sing all of them, if I was allowed to, haha.

3.            What has inspired you in making music?

Andy: I have a really specific taste in music, just from collecting records for quite a really long time, even almost more than making it. I like the idea of people trying to make pop music but with no money, like they’ve only got like 20 dollars instead of a thousand dollar studio, so it’s like attempted pop music with no money and limited equipment. And a lot of interesting music can come out from that kind of situation.

Becky: It’s funny how people keep asking us if our music is experimental because it’s weird or whatever. We’re just really trying to make pop music, but it just comes out weird. I’ve always tried to make music that I hope people will like, but sometimes it just sounds a little bit different from what we thought.

4.            For those who aren’t familiar with Fox+Sui, could you describe the music you play?

Andy: Blurry pop, I guess, like island music. In the early 90’s or 80’s there was a number of people from Europe doing a tropical music, so it’s like music inspired by tropical environment.

Becky: Music that people would make to emulate a place that’s not where they’re from. So, it’s people trying to reinterpret Brazilian and Latin music but with a European electronic context.

 

5.            Knowing that both of you come from a different musical background, could you tell me more about the recent EP you have released? How has it been?

Becky: Pretty good. We got to do a nice project and meet new people. We both got up from solo practices and ended up together, so we had to find a meeting point between what he does by himself and what I do by myself. Andy does more dance music, and I do more song based, pop music kind of style. It’s quite challenging to find that meeting point, because if one was not satisfied with their own individual pursuits, it would not work because then they’d be putting too much on their own work.

Andy: The same thing happens with this collaboration, you really have to let it happen when you’re ready to work together, cause if you want to be forceful and push something upon someone else, it’s not going to be easy, and that’s when bands break up.

6.            What sort of preparation you have you done for today’s performance?

Andy: Just some regular rehearsals. With our kind of sound you have to be constantly checking if your piece of electronic gear hasn’t died (laughs).

Becky: And also for us, it’s mainly we have to be in the right mood, we can’t force anything, even with rehearsing. So, we have to try to be in the right mood and just be ready to perform, mentally.

7.            Do you have any messages that you would like to give to our readers?

Andy: Eat well. That’s it I guess (laughs).

 

Interview with Woodlock

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tiga pria muda asal Victoria, yang terdiri atas kakak beradik Zech dan Eze Walters dan seorang teman mereka, Bowen Purcell, pergi road trip mengelilingi Australia dan memutuskan untuk membentuk sebuah band. Datang dari sebuah kota di Victoria bernama Yarrawonga, Woodlock dengan cepat menjadi salah satu band yang patut diperhitungkan. Dalam kurang dari setahun, mereka berhasil mendapatkan salah satu nominasi award dari AU Review’s Reverb sebagai Nation Artist of the Month, tour sepanjang Australia bagian East Coast, dan telah meluncurkan album mini pertama mereka, berjudul ‘Lemons’.

“Jujur aja, kita juga ga menyangka kenapa semuanya bisa berjalan begitu cepat, tapi yang pasti orang-orang yang dengan setia mendengarkan musik kita adalah push terbesar dibalik ini semua, jadi kita sangat berterimakasih,” ucap Zech.

Nunansa dongeng dapat langsung dirasakan ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu mereka. Lantunan ritme akustik sederhana namun menarik menemani para pendengar sembari menyimak kisah-kisah cinta bahagia maupun sedih yang terdapat dalam lirik. Semua itu disampaikan hanya dengan petikan gitar serta sedikit dentuman perkusi.

“We have always loved story-telling. Contohnya, beberapa lagu di mini album kita bercerita tentang zombies mencoba membunuh pacar kamu, tapi sebenarnya inti dari lagu itu adalah tentang seseorang yang jahat sama kamu, they’re like a zombie that you need to get away from,” kata Bowen.

Band yang mendeskripsikan musik mereka sebagai Stadium Folk ini mengaku bahwa banyak lagu-lagunya terinspirasi oleh The Beatles, John Mayer, Bon Iver, dan juga Coldplay. “Coldplay is a major one in a lot of ways in how they are crafty with their lyrics, sangat menginspirasi,” ujar Eze.

Menjadi salah satu musisi sukses yang mengawali karirnya melalui busking, Woodlock saat ini adalah band yang cukup dinanti kehadirannya ketika sedang berjalan-jalan di sekitar Melbourne CBD. Ketika ditanya apa yang membedakan antara busking dan tampil di acara panggung musik, trio muda ini dengan kompak menjawab, “ekspektasi”.

On the street, we are more of a discovery thing. So, when people walk and see you, they’ll be like ‘Oh, who’s this band?’ and if they like it, they’ll stay and listen to us. Tapi kalau kamu di panggung, ada sebuah ekspektasi tertentu dari orang-orang karena mereka mengenalmu, jadi kamu harus perform lebih baik,” ungkap Zech.

Eze menambahkan bahwa ekspektasi itulah yang dapat membuatnya cukup gugup saat harus tampil dalam sebuah acara musik. Namun, ia juga menyatakan kalau acara panggung musik akan selalu mereka dedikasikan untuk para pendengar setia mereka, “gigs are being set up for people who appreciate our music so much, that they’re willing to come and see us playing live while doing our originals. It’s great!” lanjut Eze.

Busking pun tidak kalah menyenangkan bagi band muda ini. Bertemu dengan banyak orang ketika tampil di jalan, menjadikan busking sebagai sebuah batu loncatan untuk Woodlock.  “Kita dapat bertemu dengan banyak orang yang baik dan asyik ketika busking, jadi tentu saja ini menjadi sebuah platform yang tepat untuk melebarkan fan base kami,” ujar Bowen.

Untuk sebuah band yang baru saja merilis mini album dan langsung mendapatkan banyak respon positif, Woodlock merupakan portrait nyata tiga sosok street buskers yang sukses. Dengan menggunakan instrumen musik yang sederhana namun lirik yang catchy, trio ini berhasil membuktikan rasa cinta mereka yang dalam terhadap musik.

The O Interview – Exclusive Interview with Kadek Mahardika
Featured Articles
August 24, 2013 posted by Ozip Team

The O Interview – Exclusive Interview with Kadek Mahardika

“Eyes on the road, Rhonda”

 

Siapa sih yang nggak tau tentang iklan si Ketut ini? Dibekali dengan kepolosannya dan plot yang lucu dalam perannya sebagai Ketut pada serangkaian iklan Ketut dan Rhonda, Kadek Mahardika mendadak jadi selebriti. Di kesempatan kali ini, Ozip dapat kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Kadek dan sharing tentang pengalamannya setelah bermain di iklan tersebut.

 

Kadek (29) sebenarnya hanya seorang pria Bali biasa yang sederhana. Hingga lima tahun lalu ia bertemu dengan seseorang di Bali. Karena penasaran dan pengen banget ke Melbourne, akhirnya Kadek memutuskan untuk pindah ke Melbourne.

 

Selama disini, dia bekerja sebagai operator kargo di salah satu perusahaan pesawat ternama. Selama bekerja disana, ia juga aktif berkumpul dengan komunitas orang-orang Bali dan Indonesia yang ada di Melbourne. Dari situ dia banyak mengenal orang-orang Indonesia di Melbourne termasuk ibu Merti yang Ozip sempat wawancara juga sebelumnya.

 

Signkat cerita, suatu hari ada sebuah tawaran untuk casting di iklan AAMI. Tapi pada saat itu, Kadek menolaknya. “Saya itu nggak bisa acting lho, saya malu kalau disuruh begituan,” demikian kata Kadek.

 

Ketika ditanya bagaimana bisa mendapat kesempatan menjadi Ketut di iklan tersebut,  Kadek bercerita bahwa awalnya dia ditawarkan oleh Ibu Merti (yang juga sempat bermain di iklan AAMI sebelumnya) untuk casting sebagai Ketut. Tapi karena malu, Kadek menolak sampai empat kali. Tetapi karena Ibu Merti bersikeras, akhirnya Kadek memutuskan untuk mencoba ikut casting.

 

“Saya itu nggak pede lho, waktu kesana saya nggak nyangka bakal diterima, saya bahkan cuma pakai baju biasa, nggak berharap apa-apa, eh tapi waktu pertama nyoba mereka langsung suka lho.”

 

Terlepas dari penampilannya yang lucu dan menghibur di iklan tersebut, Kadek mangaku tidak punya darah akting sama sekali. Tetapi bakat akting ini terlihat jelas ketika dia sedang shooting.

 

Menurutnya, waktu shooting pertama itu, skripnya tidak bagus, akibatnya sutradara dan tim harus berulang kali mengganti kata-kata di skrip. Sampai akhirnya Kadek improvisasi dan menciptakan kata-kata sendiri untuk iklan tersebut. Catch line seperti “eyes on the road Rhonda” itu ternyata dia ciptakan sendiri dan karena itu juga iklan tersebut menjadi sukses seperti sekarang ini.

 

Setelah selesai shooting, Kadek tidak berharap apa-apa dan kembali ke kehidupan biasanya. “Setelah selesai kita nggak dikabarin apa-apa, jadi nggak nyangka juga iklannya bakalan sukses, kita pikir jadinya jelek dan nggak akan diputar”.

 

Tapi tak disangka-sangka rupanya iklan Ketut ini sangat digemari oleh publik Australia. Kadek pun mendadak jadi selebritis, dengan undangan interview di radio dan majalah-majalah Australia, serta keikutsertaannya di acara amal bersama public figures lain seperti Jennifer Hawkins dan atlet AFL.

 

Kadek bahkan punya fan page sendiri di facebook dengan titel “Sexual tension between Ketut & Rhonda”. Ketika ditanya mengenai pendapatnya sehubungan dengan kesuksesannya ini, dia hanya bisa berkata “wow” dan takjub.

 

Ketika berjalan-jalan di publik, tak jarang Ketut diajak foto dengan pejalan kaki. Katanya “capek juga kadang kadang, sampai pernah saya sedang capeknya diajakin foto, akhirnya saya bilang saya bukan Ketut, saya saudaranya,” canda Kadek.

 

Ketika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan sebagai Ketut, dia bercerita tentang pengalamannya di Melbourne Cup. Ketika itu dia diutus untuk mewakili AAMI seperti biasanya. Namun dia tidak menyangka bahwa acaranya sangat ramai dan banyak sekali orang mengajak foto. Katanya “saking ramainya, saya sampai dikasih enam bodyguards.”

 

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika dia diundang ke acara untuk para pegawai AAMI. “Waktu itu mereka dikasih pilihan untuk bonus tahunan mereka, tapi mereka malah minta saya datang sebagai Ketut ke pesta mereka. Bahkan mereka pada pakai baju ‘Kiss me Ketut’.”

 

Terkenalnya Kadek ini tidak hanya berhenti di Australia. Di Bali, banyak juga orang orang yang mengenal Ketut dan bahkan berjualan baju Ketut dengan tulisan “Eyes on the road Rhonda.” “Lucunya, banyak orang nyangka saya itu tinggal di Bali.”

 

Tetapi menjadi terkenal tidak selamanya menyenangkan. Menurut Ketut dia cukup capek dengan rutinitasnya sebagai selebritis. Tak hanya bermain di iklan-iklan AAMI, tetapi Ketut juga harus datang ke acara-acara penting seperti pertandingan AFL, Tennis, atau Melbourne Cup untuk mewakili AAMI berfoto-foto dengan para fans. Menurut Kadek, walaupun capek, dia sangat bersyukur dengan kesempatan ini. “Menurut saya semua ini anugerah: Tomorrow is a mystery, yesterday was history, and today is a gift.”

 

Terlepas dari rasa capek ini, Kadek tetap bangga dan bersyukur atas apa yang dia terima. Apalagi, dengan kesuksesannya ini, Kadek punya kesempatan untuk membawa nama Bali dan Indonesia. Terlebih lagi dia punya kesempatan membantu orang-orang di Bali. Dia bercerita bahwa dari menjadi Ketut ini, Kadek bisa mengadakan acara amal bersama dengan Bali Children Foundation untuk panti asuhan yang dia buat di Bali.

 

Kadek mengaku bahwa apa yang dia dapat itu tidak begitu penting bagi dia. “Nggak dibayarpun saya nggak papa” katanya. Tetapi hal yang lebih penting baginya adalah untuk membantu Bali dan Indonesia sebisa mungkin. “Yang penting saya bisa melakukan sebisa saya untuk Bali dan bisa menghidupi anak- anak saya.”

 

Ketika ditanya rencana kedepannya apa, dia sedang menunggu kabar dari Dancing with the Stars. “Katanya kalau iklan yang selanjutnya ini sukses, mungkin saya bisa ikut di Dancing with the Stars.” Ketika ditanya mengenai kemauannya untuk terjun ke layar lebar apabila diberi kesempatan dia menjawab “Why not?”

 

Teks: Rama Adityadarma

Foto: Ineke Iswardojo