Category Archives: Featured Articles

Featured Articles

Featured Articles
December 14, 2013 posted by Ozip Team

Wedding Venues in Indonesia

Pembaca OZIP, ada yang butuh rekomendasi tempat oke untuk melangsungkan upacara sakral pernikahan? Walaupun pilihan tempat menikah pasti banyak tergantung faktor-faktor pribadi, beberapa kriteria menjadi patokan umum untuk menjadi tempat pernikahan. Fasilitas yang memadai, tempat dan suasana yang sesuai dengan mood acara pernikahan serta memberikan pengalaman yang berkesan, menjadi tiga dari banyak kriteria yang digunakan pasangan pengantin.

Ayana Resort & Spa, Bali

champa_garden ayana resortHotel di atas puncak jurang ini mempersembahkan pemandangan Teluk Jimbaran dan matahari terbenam. Dilengkapi dengan fasilitas spa kelas dunia dan lokasi yang lumayan tersembunyi sehingga pengunjung tidak merasa bising atau mudah terganggu. Cocok untuk mereka yang membutuhkan suasana private yang menghormati kesakralan acara. Berbagai penghargaan sudah berhasil diraih tempat ini, mulai dari Reader’s Award #1 Resort Spa in Asia Pacific majalah DestinAsian, World’s Best Wedding Venue 2012 oleh situs travel CNNGo, sampai masuk dalam daftar World’s Best Hotel, Asia’s Top Resorts,  dan World’s Best Spa Resort oleh media pariwisata seperti Conde Nast Traveller dan Travel + Leisure.

Untuk paket pernikahan sendiri, Ayana Resort & Spa tidak tanggung-tanggung. Dengan biaya belasan ribu US dollar, Anda mendapatkan spesialis perencana acara pernikahan yang akan menyesuaikan paket pernikahan dengan selera pribadi Anda. Mulai dari gaya dekorasi, lokasi ruangan, hair and make-up, pembuatan kue pernikahan, hiburan ketika acara, paket makanan & minuman, sampai  perawatan spa untuk pasangan calon suami istri dan hadiah untuk para tamu yang datang pun bisa disiapkan.

Paket pernikahan disini bisa Anda pilih di antara lima tema yang tersedia, diantaranya Sweet Escape Wedding untuk mereka yang memilih suasana yang private dan intim, Sunset Promise Wedding untuk acara pernikahan di lokasi gedung kaca yang berlatar belakang matahari terbenam dan pemandangan samudera, Secret Garden Wedding untuk acara terbatas bersama keluarga dan teman-teman terdekat dengan atmosfir outdoor Bali, atau Champa Garden Wedding untuk acara pernikahan besar yang dihadiri oleh banyak orang dan menawarkan suasana yang megah, elegan, dan mewah. http://www.ayanaresort.com/en/wedding/wedding_packages/

Aman Resort

  • Amanjiwo, Magelang 

AmanjiwoUntuk pasangan pengantin yang lebih suka pemandangan bukit hijau Jawa, resort Amanjiwo di Magelang menawarkan spesialisasi paket pernikahan tradisional Jawa yang dimulai dengan persembahan Gunungan kepada pasangan pengantin. Selain paket pernikahan tradisional, Amanjiwo juga bisa mengatur pemberkatan pernikahan Kristen dengan kerjasama berbagai gereja yang berlokasi di dekat Borobudur. Hotel yang menawarkan pemandangan hijau padang Kedu dan lokasi yang dekat dengan salah satu situs warisan budaya Indonesia yang paling terkenal di dunia, Candi Borobudur ini, menyediakan fasilitas Suite Dalem Jiwo. Sebuah kompleks yang tersembunyi, lengkap dengan pintu masuk eksklusif, ruang rotunda (balai/pendopo) yang luas, dikelilingi dengan teras dan dua kamar tidur yang terpisah. Kolam renangnya terlihat menyatu dengan sawah padi. Upacara pernikahan terbatas bersama keluarga dan teman-teman terdekat dengan suasana yang intim sangat cocok dilaksanakan di rotunda ini. Setelah acara pernikahan usai, rotunda bisa dijadikan sebagai ruang resepsi. Dekorasi ruang resepsi bisa disediakan oleh tim dari Amanjiwo, dengan menyesuaikan selera dan kebutuhan pribadi. Komponen dekorasi yang dipersembahkan Amanjiwo untuk rotundanya misalnya karpet kelopak mawar di lantai batu kapurnya, obor bambu dan lilin yang berbalut daun pisang, dilengkapi dengan karangan bunga melati yang harum menghiasi sepanjang tiang-tiang rotunda. Sementara itu, orkestra gamelan juga siap hadir jika dibutuhkan untuk menemani pertunjukan penari tradisional Jawa sebagai hiburan acara. http://www.amanresorts.com/amanjiwo/home.aspx

  • Amanwana, Pulau Moyo (NTB)

Amanwana weddingHutan lebat di pedalaman Pulau Moyo, bagian barat pulau Nusa Tenggara, ternyata memiliki hotel mewah yang menyediakan fasilitas acara pernikahan, Amanwana. Terletak di Pulau Moyo, yang menyajikan pemandangan hutan tropis, Teluk Amanwana yang merupakan taman laut nasional yang dilindungi, serta laut lepas Laut Flores di ujungnya. Dari Pulau Moyo, Anda juga bisa melihat Gunung Rinjani, puncak tertinggi ketiga di Indonesia, Pulau Medang, dan pegunungan terjal di Sumbawa.

Amanwana Resort merupakan kawasan yang sangat terpencil, menyajikan suasana pernikahan yang sangat unik dan tidak terlupakan, untuk mereka yang senang bertualang di alam bebas. Dikelilingi berbagai flora dan fauna khas kawasan ini, hutan rimbun dan air terjun yang mengalir deras, lokasi ini paling cocok untuk mereka yang sangat menghargai kedekatan dengan alam dan mampu menghormati indahnya sajian alam di sekelilingnya. Tenda-tenda mewah yang didirikan di tengah-tengah suasana ini, dilengkapi dengan paviliun musik dan Jungle Cove Spa di alam terbuka, memberikan kesempatan untuk tamu bersantai dan beristirahat dengan puas.

Upacara pemberkatan yang intim dengan jumlah tamu yang sangat terbatas (maksimal 10 orang) bisa dilakukan di kawasan pembukaan pedalaman hutan yang terpencil, dimana Anda bisa berjalan kaki untuk mencapai air terjun, dengan air hijau yang mampu merefleksikan rimbunnya dedaunan hijau di atasnya.

Sementara upacara pemberkatan tradisional khas Indonesia bisa dilakukan di paviliun musik, dengan mengundang 40-50 orang untuk menginap di 20 tenda mewah yang tersedia di pulau ini dan memenuhi kapasitas resepsi makan siang/makan malam di ruang terbuka.
Acara bisa ditutup di Crocodile Head, di sudut utara pulau ini, untuk melihat matahari terbenam. Jika Anda membutuhkan pendeta Kristen, Amanwana pun mempunyai kontak di Sumbawa, kota terdekat.

Pernikahan disini cocok untuk mereka yang mencintai kehidupan laut dan olahraga air, dengan pilihan aktivitas seperti scuba diving, snorkelling, sport fishing, dan berlayar di kapal Aman II mengarungi wilayah perairan alami Indonesia yang masih  belum banyak tersentuh, untuk pengalaman bulan madu yang khas pulau tropis.  http://www.amanresorts.com/amanwana/home.aspx

Foto: Koleksi Ayana Resort, Amanjiwo, & Amanwana

 
Featured Articles
December 13, 2013 posted by Ozip Team

A Coffee Lover’s Story : An Affair to Remember

Anastasia Clara Gumulia

Anastasia Clara GumuliaKenikmatan, keunikan, dan rasa khas yang dimiliki oleh kopi memang bisa mengubah kebiasaan seseorang dari yang biasa saja menjadi pencinta kopi. Hal inilah yang dialami oleh Anastasia Clara Gumulia, mahasiswi Indonesia pencinta kopi yang sedang menempuh kuliah di RMIT University.

Bagi Anas, minum kopi adalah sebuah keharusan supaya mata tetap terjaga dan pikiran bisa fokus saat masuk kuliah. Akan tetapi lama kelamaan, Anas menjadi tertarik untuk mencoba bermacam-macam jenis kopi yang dijual di Melbourne setelah sering bertemu teman-temannya yang jauh lebih mengenal kopi daripada dirinya.

Lewat teman-temannya, Anas bisa mengenal lebih dalam variasi dari jenis-jenis kopi dan mengetahui bahwa Australia termasuk dalam 10 negara terbaik penghasil kopi dunia. ‘Selagi masih diberi kesempatan kuliah dan tinggal di negeri seberang ini, why not taste that awesome coffee’ tutur Anas.

Anas tidak memiliki ritual khusus dalam minum kopi, dirinya selalu minum kopi saat mata mulai tidak bisa diajak kompromi dengan jam lecture. Selain itu jika pergi ke daerah-daerah baru yang belum pernah ia datangi apalagi kalau tempatnya jauh, Anas selalu menyempatkan diri untuk mencicipi secangkir kopi hangat yang dijual di sana.

Hal yang menarik adalah Anas selalu menyimpan setiap gelas kopi yang dia minum. Saat dirinya mencoba minum kopi di kafe yang baru, pesanannya selalu sama yaitu ‘latte, no sugar, and takeaway’. Anas selalu pesan take-away karena ia ingin menyimpan gelas-gelas kopinya.

Sesampainya di rumah, gelas-gelas kopi itu hanya dibilas dengan air, tidak sampai bersih, karena Anas sengaja ingin meninggalkan sedikit aroma kopi di gelas. Anas menganggap kopi sebagai teman terbaik khususnya di saat ia sedang berjuang melawan arus kantuk yang luar biasa. ‘Rasanya kayak ditampar supaya tetap wake up tapi enggak sakit. Haha.’ tambah si Anas. Meskipun dirinya gemar minum kopi, Anas menyadari bahwa minum kopi keseringan kurang baik. Tetapi Anas tidak begitu khawatir dengan efek negatif kopi asalkan dirinya bisa membatasi jumlah kopi yang diminumnya. Anas pun tidak memungkiri keinginannya untuk mengurangi konsumsi kopi di saat tak banyak tugas. Namun, dimana ada kedai kopi baru, Anas tetap tidak akan ragu-ragu untuk datang icip-cip.

Agustinus Verdy 

Pada awalnya Agus tidak menyukai kopi karena rasanya yang pahit. Akan tetapi, semuanya itu berubah ketika Agus pertama kali mencoba salah satu Agustinus Verdymenu kopi spesial yang ditawarkan oleh kedai kopi Brother Baba Budan yang terletak di pusat bisnis kota Melbourne.

Kopi yang diminumnya di sini terasa berbeda dengan kopi yang biasanya Agus minum. Sejak saat itu, Agus mulai suka minum kopi. Agus biasanya minum secangkir kopi sebelum berangkat kuliah atau kadang-kadang ia langsung masuk kelas dan baru menikmati secangkir kopi di saat jam istirahat.

Agus tidak mempunyai jadwal khusus untuk minum kopi setiap harinya. Yang menjadi kebiasaan Agus adalah beli kopi sebelum berangkat kuliah kemudian baru meminumnya saat tiba di kampus dan juga menikmati secangkir kopi saat duduk di suatu tempat sambil mengerjakan tugas.

Agus suka memesan kopi jenis ‘soy cappucino’ karena rasanya yang begitu spesial menurutnya. Dirinya dan juga beberapa teman sesama penggemar kopi kadang-kadang suka nongkrong di suatu tempat dan kemudian bersama-sama membeli dan menikmati kopi yang dibeli dari sebuah kedai kopi.

Tidak menjadi masalah bagi Agus dkk jika harus berjalan satu kilometer untuk mendapatkan secangkir kopi yang dibeli dari kedai kopi favoritnya dan kemudian kembali ke tempat nongkrong langganannya meskipun di dekat situ ada beberapa kedai kopi.

Suatu ketika pernah Agus dan teman-temannya menyempatkan diri untuk menghadiri festival kopi internasional di Melbourne dan mencoba hampir semua kopi yang mereka temukan di sana. Karena kebanyakan minum kopi, ia dan teman-temannya saat itu sempat tidak bisa tidur dari malam sampai pagi. Menurutnya, kopi bisa membuat pikirannya menjadi jernih dan membuat tubuh menjadi lebih segar.

Efek negatif dari kopi tidak membuat dirinya khawatir karena Agus bisa membatasi dirinya hanya dengan minum secangkir kopi saja setiap harinya. Agus menambahkan bahwa dirinya tidak pernah mengkonsumsi kopi setelah sore hari. Namun ada kalanya Agus tidak minum secangkir kopi dalam sehari dan yang menjadi alasan bukan efek negatif dari kopi melainkan ‘kantong kering’ kata Agus 

(Teks & Foto: Ivan Ciputra Halim)

Leonardi Djuhari

LEONARDILeonardi Djuhari, atau yang biasa akrab dipanggil Leo, adalah salah satu dari coffee lovers yang OZIP wawancarai. Leo adalah seorang barista yang sempat bekerja di beberapa kafe di Melbourne seperti Coffee Exchange di Little Collins Street, juga Grain Store di Flinders Lane. Meskipun dirinya baru berkiprah di dalam coffee industry selama satu setengah tahun, Leo bercerita bahwa ketertarikannya terhadap kopi sudah berlangsung sejak lama. Semuanya berawal dari Leo yang mengamati kakaknya mengonsumsi kopi dengan rutin.

 

“Pelan-pelan gue jadi ada fascination sama the world of coffee; from tasting a coffee that is not bitter. When you taste quality coffee – you taste coffee without any bitterness – itu jadi fascination gue bahwa kok kopi bisa ada yang nggak bitter,” cerita Leo dengan semangat.

 

Dari pesona kopi inilah akhirnya Leo menyalurkan ketertarikannya dengan mencari tahu lebih banyak mengenai sejarah serta tipe kopi yang berbeda dari setiap daerah. “That’s when I start pursuing how to make good coffee,” ujar pria yang sempat menempuh pendidikan di Swinburne University of Technology ini.

 

“Coffee can taste like blueberries, or more, it has notes of blueberry, notes of strawberry, notes of flower, notes of honey. Itu buat gue lebih pengen mendalami [kopi] lagi.”

 

Alhasil, Leo membeli coffee machine dan belajar secara otodidak demi membuat kopi yang nikmat. Informasi diperolehnya dari forum-forum coffee makers, serta tutorial yang tersedia di internet.

Namun, menurutnya “the best way to learn is by making lots of coffee.” Leo yang pada waktu tersebut sedang unemployed, akhirnya mengasah insting mengolah kopi dengan bekerja sebagai barista. Sejak itulah kecintaannya terhadap kopi kian bertambah.

 

Ketika ditanya mengenai ritualnya bersama kopi, Leo dengan santai mengaku bahwa ada masanya dimana ia dulu meminum kopi filter sebanyak 8 hingga 16 sloki setiap hari. Selain itu, espresso juga menjadi salah satu pilihan kopi yang sering ia konsumsi setiap hari.

 

“It’s a flavour I can appreciate more because it shows more of the coffee quality,” kata Leo ketika ditanya mengenai rasa sukanya terhadap kopi espresso.

 

Secara umum kopi membantu sang peminum untuk dapat lebih fokus pada saat melakukan kegiatan; namun, efek yang Leo dapat dari kopi melampaui itu. “You feel everything is brighter. The colour has more contrast in everything. You have more energy to do anything and everything,” tutur Leo menjelaskan.

 

Akan tetapi, bersamaan dengan konsumsi kopi yang banyak, Leo cukup sulit untuk lepas dari kebiasaan ini. Contohnya, ketika ia berhenti meminum kopi selama empat hari, muncul gejala-gejala withdrawal seperti mabuk dan migrain. “Because [coffee] is an energy boost for a short period of time you have to sustain it by drinking more coffee,” kata Leo yang akhirnya mengurangi konsumsi kopinya menjadi 4 gelas per hari.

 

Kopi tampaknya tidak bisa luput dari kehidupan Leo. Demikian pula dengan kegiatan membuat kopi. Setiap kali ia berhasil membuat kopi yang dinikmati oleh customer, ada suatu kepuasan maksimal yang ia rasakan.

Akan tetapi, tidak terhindari bahwa ada pula customer yang kurang menyukai kopi buatannya. Ia pun mengamini, “the customer is king… taste is very subjective to each individual.”

Kenikmatan yang didapatkan customer dari kopi buatannya pun tak lepas dari peran petani yang menanam, merawat, memetik, serta memproses biji kopi hingga bisa sampai ke tangan customer. Menurutnya, sangat penting untuk mengapresiasi kerja keras petani kopi yang seringkali dilupakan oleh para penikmat kopi.

Ketika ditanya mengenai kopi terbaik di dunia, Leo dengan yakin menyebut kopi Esmeralda Geisha dari Panama. “They naturally have a lot amount of sweetness, and it’s very smooth, very clean. Manisnya kayak fruits, kayak fruit punch,” Leo memaparkan dengan detail. Tak heran bahwa dengan kenikmatan ini, Geisha dicap sebagai salah satu kopi termahal di dunia. Apakah pembaca tertarik untuk mencicipi?

Teks: Pingkan Palilingan Foto: Dok.pribadi

Galuh Anindita

Ketika ditanya satu hal yang paling ia suka dari kopi, Galuh dengan santai menjawab, “harumnya”. OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Galuh Anindita adalah salah satu portrait  seorang ‘coffee addict’ yang telah menjadikan minum kopi sebagai bagian penting dari kegiatan sehari-harinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kopi adalah suatu hal yang sejak dahulu sudah digemari oleh banyak orang di seluruh dunia, termasuk gadis berumur 21 tahun ini.

 

“Awalnya mulai suka dengan coffee saat harus mengerjakan tugas dimana saya terpaksa harus stayed up late, dan saya juga orangnya lumayan gampang tertidur, jadi sejak itulah saya mulai intense minum kopi.” ujar Galuh.

Mungkin bukan suatu alasan baru bagi seorang ‘coffee lover’ untuk mulai mengonsumsi kopi agar tetap terjaga sampai malam, namun justru berawal dari keadaan mendesak itulah yang membuat Galuh sulit untuk lepas dari kopi hingga saat ini.

 

“Memang pertamanya hanya coba-coba aja, eh setelah itu malah suka. Biasanya saya minum kopi sebelum beraktivitas saat pagi hari, tapi kalau siang mau ada lecture dan merasa butuh coffee ya saya ke coffee shop kampus,” ungkapnya.

 

Ia memaparkan bahwa salah satu bentuk pelampiasan dari kecintaannya pada coffee adalah dengan membeli cangkir-cangkir khusus untuk minum kopi. “Saya punya beberapa gelas dan cangkir kopi dan mulai dijadikan sebagai koleksi, malah ada juga yang dibeliin sama teman-teman karena mereka tahu saya suka minum kopi.”

 

Ia pun melanjutkan, setelah membuat kopi sendiri dan menuangkannya ke dalam cangkir yang sudah ia pilih, ia biasanya akan mengambil beberapa photo dan mengunggahnya ke dalam situs social network. 

 

Dengan bertambah banyaknya jenis kopi yang dijual di pasaran, para penikmatnya pun disuguhkan dengan berbagai pilihan citarasa yang lebih beragam. “Kalau beli kopi, biasanya saya pesan iced coffee atau cappuccino tanpa gula tambahan, atau malah tidak pake gula sama sekali. Kalau buat kopi sendiri gulanya satu sendok. Saya memang kurang suka yang terlalu manis,” papar anak pertama dari dua bersaudara ini.

 

Berbagai jenis dan merek kopi pun sudah ia coba, mulai dari yang light sampai yang strong, namun pilihan kopi favoritnya jatuh pada Kapal Api.

Gadis yang baru saja menyelesaikan studi-nya di University of Queensland ini menyatakan bahwa kecintaannya pada kopi classic khas Indonesia tersebut bertambah ketika dirinya tinggal di Brisbane.

“Saya suka Kapal Api sejak mulai kuliah di Indonesia. Lalu entah kenapa semenjak transfer ke Brisbane, saya jadi semakin suka dengan kopi-kopi buatan Indonesia, mungkin jadi inget rumah kalau minum itu,” ungkap Galuh.

“Sempat banyak yang bertanya-tanya kenapa suka kopi pahit karena nggak banyak teman-teman yang minum kopi seperti itu. Rasanya memang pahit, tapi karena wanginya itu menurut saya rasa pahitnya jadi gak terlalu terasa,” lanjutnya.

Selain karena citarasa dan efek ‘melek’ sehabis meminum kopi, satu hal lagi yang membuat Galuh menggemari minuman tersebut adalah aromanya. Kopi sendiri dapat mengeluarkan aroma khas dan berbeda pada setiap jenisnya. Harum yang singgah di hidung para penikmatnya diakui Galuh menjadi daya tarik tersendiri dan dapat mencerahkan kabut yang menutupi konsentrasi.

Diluar kenikmatan kopi yang ia rasakan selama ini, tidak menutup kemungkinan bahwa efek negatif akan timbul akibat terlalu sering meminum kopi. Saat ditanya mengenai hal tersebut, gadis bertubuh tinggi ini pun memberikan senyuman.

“So far sih aku gak pernah merasakan dampak negatif yang signifikan karena menurutku frekuensi minum kopiku masih cukup wajar. Cuma kalau ga minum kopi sehari aja rasanya kurang fresh dan lemes, nah aku ga tau deh itu bisa dibilang negatif apa engga,” ujarnya diikuti dengan tawa kecil.

Coffee Special : It’s OK, after all
Featured Articles
December 13, 2013 posted by Ozip Team

Coffee Special : It’s OK, after all

Apakah kopi baik untuk Anda? Tidak ada yang tahu benar atau tidak, atau bagaimana mekanismenya secara pasti. Namun, hasil penelitian kedokteran menyatakan bahwa mungkin saja kopi tetap mempunyai beberapa efek positif untuk peminumnya. Yuk kita simak hasil yang sudah beredar, apa saja pengetahuan yang ada di luar sana mengenai dampak positif kopi.

 

Hubungan Positif Antara Kopi dan Kesehatan

 

Menurut Dr. Alberto Ascherio, profesor Epidemiologi dan Nutrisi di Harvard School of Public Health, seperti dikutip di CNN.com saat ini komunitas ilmu mengetahui lebih banyak tentang asosiasi/hubungan keseluruhan antara kopi dan efek positif untuk kesehatan, namun hanya sedikit saja yang mengupas mekanisme di balik efek positif tersebut. Apa saja hubungan positif tersebut? Kopi mengandung beberapa zat kimiawi yang berguna untuk kesehatan Anda, dan kopi bisa dijadikan salah satu cara agar dapat memperkecil kemungkinan Anda terkena beberapa penyakit.

 

Sumber Antioksidan

 

Salah satu zat yang ada di kopi adalah antioksidan. Malahan, ada beberapa riset yang menunjukkan bahwa kopi adalah salah satu sumber antioksidan tertinggi di Amerika Serikat. Antioksidan mempunyai satu fungsi yang krusial untuk daya tahan tubuh, yaitu bertugas mengikat radikal bebas dari menimbulkan kerusakan-kerusakan di tubuh kita. Sumber lainnya dari antioksidan adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.

 

Lebih kecil kemungkinan terkena beberapa penyakit kanker 

 

Kopi dinyatakan dapat mengecilkan tingkat insulin dan estrogen. Tahun 2011, sebuah studi menyatakan bahwa wanita yang meminum kopi secara rutin mempunyai kemungkinan lebih kecil untuk terkena penyakit kanker endometriosis. Tingkat insulin yang tinggi juga berperan dalam menentukan seseorang terkena penyakit kanker prostrat. Untuk para pria, ada kabar bahagia. Sebuah studi pada Mei 2011 menyimpulkan bahwa ditemukan risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker prostrat yang sampai menyebabkan kematian, bagi pria yang meminum kopi dengan jumlah yang banyak dalam sehari (lebih dari 3 kali sehari).

 

Manfaat Lainnya 

 

Walaupun tidak ada pembuktian dengan sains bahwa kopi yang menyebabkan efek-efek tersebut, para peneliti tetap berusaha mengungkap hubungan antara konsumsi kopi dan efek yang dialami oleh peminum kopi. Beberapa manfaat lainnya yang ditemukan adalah adanya hubungan antara konsumsi kopi dan pencegahan tipe II diabetes dan penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kemampuan syaraf seperti Alzheimer dan Parkinson’s.

 

Majalah Popular Science memuat artikel yang ditulis oleh Kris Gunnars dari Authority Nutrition. Artikel tersebut mengutip hubungan yang positif antara konsumsi kopi dan penurunan resiko terkena penyakit Alzheimer’s dan dementia. Peminum kopi mempunyai level risiko terkenal Alzheimer’s dan dementia yang 60 % lebih rendah daripada mereka yang tidak minum kopi. Sementara itu, untuk penyakit Parkinson’s, peminum kopi mempunyai risiko yang kira-kira berkisar antara 30 % – 60 % lebih rendah untuk terkena penyakit tersebut dibanding mereka yang tidak minum kopi. Hmm, menarik ya?

 

Khusus untuk pencegahan penyakit tipe II diabetes, ternyata bukti yang muncul cukup kuat dari berbagai studi yang dilakukan. Menurut analisa yang dilakukan tahun 2009, risiko Anda terkena tipe II diabetes semakin menurun dengan bertambah lamanya Anda meminum kopi.

 

Penyakit lainnya yang juga dikatakan bisa dicegah dengan minum kopi adalah salah satu jenis penyakit kanker kulit, yaitu basal cell carcinoma. Hal ini diungkap oleh sebuah laporan dari journal Cancer Research. Hal ini juga bisa diamati dengan konsumsi minuman lainnya yang mengandung kafein.

 

Sebaiknya, amati dan dengarkan hasil riset diatas. Namun tetaplah  menggunakan akal sehat Anda. Hal ini tetap dibutuhkan karena banyak hasil-hasil studi tersebut yang masih bisa dibilang spesifik/terjadi secara khusus. Kajian risetnya masih belum mendalam, baru menyorot koresionalitasnya saja (hubungannya saja) dan belum membicarakan tentang kausalitasnya (sebab-akibat). Sebaiknya tetap jaga konsumsi kopi Anda tidak melebihi dua cangkir sehari (dan tiga, kalau memang benar-benar membutuhkan saja). Karena inilah jumlah yang dinyatakan aman oleh sebagian besar peneliti kesehatan, dan di jumlah inilah manfaat kopi bisa terasa optimal tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang gawat.

Coffee Special : The downside of coffee.
Featured Articles
December 13, 2013 posted by OZIP Team

Coffee Special : The downside of coffee.

 

Sebagai seorang penggemar kopi, membuat daftar ini tentu saja sedikit sulit. Mengumpulkan berbagai data penelitan akan efek negatif kopi mungkin akan sedikit membuat Anda yang mencintai kopi sedikit mengurangi porsi konsumsi kopinya. Namun kalau tidak? Hmmm, Anda sudah kecanduan namanya, mungkin butuh rehabilitasi?

 

Hubungan Erat Antara Kopi & Maag

 

Kebanyakan hasil riset yang menunjukkan efek negatif kopi menyebutkan bahwa secara umum, jika kopi dikonsumsi tanpa berlebihan (misal hanya satu gelas per hari), maka efek negatif kopi tidak akan terasa atau berpengaruh banyak. Riset efek negatif kopi ini dilakukan untuk mengamati hubungan antara penyakit jantung, kelainan bayi yang dilahirkan, dan masalah-masalah sistem reproduksi, dan semuanya tidak menemukan hasil efek negatif ketika dilakukan kepada orang yang mengonsumsi kopi dengan moderasi (tidak terlalu banyak). Efek-efek negatif yang besar pengaruhnya untuk kesehatan biasanya teramati hanya setelah meminum kopi dalam jumlah yang berlebihan, misalnya lebih dari 3 cangkir dalam sehari, selama bertahun-tahun. Walaupun begitu, para dokter menyarankan jika pasiennya mempunyai masalah dengan penyakit jantung, penyakit maag, dan sedang hamil, sebaiknya tetap mengurangi konsumsi kopinya.

 

Sebuah riset terhadap 25,000 pria yang dikutip oleh DrinkHealthyDrinks.com menemukan bahwa pria yang mengonsumsi kopi mempunyai resiko 72 % lebih tinggi daripada mereka yang tidak minum kopi untuk terkena penyakit maag.

 

Kopi tidak hanya mempengaruhi kemungkinan terkena penyakit maag, tapi juga gangguan perut dan pencernaan lainnya. Mayoritas masalah yang ditemukan hubungan kuat dengan kopi adalah seputar area perut dan pencernaan. Zat asam dan bahan-bahan yang ada dalam kopi akan mengiritasi lapisan-lapisan perut, dan menimbulkan masalah pencernaan, dan jika Anda meminum kopi tanpa kafein, efek yang sama juga bisa terasa. Minum kopi tanpa didahului dengan makanan apapun (dengan perut kosong) mempengaruhi beberapa orang untuk merasakan sakit perut secara langsung dan iritasinya terhadap lapisan perut lebih besar lagi daripada jika Anda mendahuluinya dengan konsumsi makanan yang lain.

 

Selain itu, ditemukan juga bahwa terkadang, bukan soal berapa banyak kopi yang sudah Anda minum. Tetapi berapa lama Anda sudah meminum kopi. Jika Anda sudah meminum kopi selama bertahun-tahun, bahkan jika Anda hanya meminumnya sekali sehari, efek negatif yang ditimbulkan oleh iritasi lapisan perut ini berpotensi berujung pada peradangan dan sakit perut.

 

Osteoporosis

 

Hubungan erat juga ditemukan antara konsumsi kafein pada wanita dan penipisan tulang yang akan membuat risiko terkena osteoporosis bertambah tinggi. Wanita khususnya, disarankan untuk minum susu yang cukup agar mengimbangi hilangnya zat kalsium yang akan dialami para wanita pengonsumsi zat kafein.

 

Gangguan Tidur

Sebaiknya, jika Anda ingin terus mempertahankan bisa tidur jam 10 malam setiap hari, tidak disarankan minum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein di atas jam 10 pagi. Kalau bisa minumlah sebelum jam 10 pagi. Efek kopi atau kafein hanya bisa dihilangkan dari tubuh setelah 12 jam dari waktu pemakaian.

 

Seperti yang mungkin telah Anda sendiri alami, mengonsumsi kopi akan menimbulkan gangguan pada saat tidur. Misalnya saja, memperburuk insomnia, mempengaruhi siklus tidur Anda, mencegah terjadinya tidur yang nyenyak, dan menghindari terjadinya fase “REM sleep”, dimana mencapai fase tidur ini cukup penting untuk mendapatkan manfaat fisik maupun kognitif yang bisa Anda dapatkan dengan tidur Anda.

 

Fase tidur REM (Rapid Eye Movement) adalah ketika Anda bisa bermimpi, ketika beberapa bagian syaraf otak menjadi aktif untuk memproses dan mengonsolidasi emosi, daya ingat, dan stress. Fase tidur ini juga cukup penting untuk proses pembelajaran dan menyebabkan terjadinya stimulasi pada bagian otak yang digunakan untuk kegiatan belajar dan melatih skill baru. Jika Anda mempunyai kualitas tidur fase REM yang bagus, hal tersebut juga akan meningkatkan atau memperbagus mood Anda di siang hari.

 

Bertambahnya Produksi Adenosine

 

Kafein, zat kimia yang paling aktif di kopi, mempunyai karakteristik sebagai adenosine inhibitor. Artinya, kafein menahan efek adenosine, zat kimia yang membuat Anda secara alami merasa mengantuk dan membuat Anda kurang konsentrasi atau melambat reaksinya. Pada mulanya, dengan penahanan adenosine ini kafein akan membuat Anda terasa lebih cepat bereaksi dan tingkat konsentrasi Anda meningkat. Namun dalam jangka panjang, efeknya sedikit tidak bagus. Begitu efek kafein berhenti, otak mulai membutuhkan kafein untuk stimulasi, saraf mulai terasa lemas, dan parahnya, dengan penahanan adenosine ini, justru otak Anda akan terpacu untuk memproduksi lebih banyak adenosine, membuat Anda lebih mudah mengantuk, kurang konsentrasi, dan melambat reaksinya. Inilah yang menjelaskan kenapa Anda terasa begitu segar setelah meminum kopi, namun setelahnya bisa terasa lemas atau butuh lebih banyak lagi kopi semakin lama untuk memberikan stimulasi yang Anda butuhkan.

 

Minimalisir Efek Negatif Kopi

 

Untuk Anda yang ingin meminimalisir efek negatif kopi, trik-trik yang disebutkan di atas bisa dicoba: jangan minum lebih dari dua cangkir kopi sehari, jangan meminumnya terlalu siang sehingga mempengaruhi siklus tidur Anda, dan imbangi dengan minum susu ketika Anda minum kopi (khususnya jika Anda wanita). Kata kunci terakhir adalah moderasi, jangan pernah berlebihan dalam mengonsumsi apapun (bukan hanya kopi saja) dan imbangi dengan hal-hal yang lebih sehat untuk menjamin kesehatan fisik dan mental Anda tetap sehat. Jika Anda mempunyai masalah yang serius dan ingin berhenti minum kopi, sering-sering mengingat efek negatif kopi akan mempermudah Anda untuk berhenti. Namun tentu saja bila Anda sebelumnya sudah kecanduan, hal tersebut tidak akan cukup kuat untuk menjamin Anda tetap termotivasi untuk tidak minum kopi. Cobalah ganti kopi dengan minuman lain yang lebih sehat, seperti teh atau jus buah, setiap kali ada dorongan untuk minum kopi lagi. Good luck!

Featured Articles
December 13, 2013 posted by Ozip Team

The O Interview with KJRI Consuls

#1: Wirawan Kartono, Konsul Muda/Sekretaris II (Protokol & Konsuler) di KJRI Melbourne

Wira1Mulai edisi ini, OZIP akan mewawancarai para petugas yang bertugas di KJRI Melbourne. Selain mengenalkan para pembaca secara lebih dalam kepada para petugas yang menjalani pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di Victoria (dan Tasmania), juga agar para pembaca tahu siapa yang perlu dihubungi sesuai dengan kebutuhan para pembaca OZIP.

Pembaca, tentu sering membaca kolom KJRI di majalah OZIP kan? Nah, menyebarkan informasi pelayanan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan menjadi warganegara Indonesia di Melbourne menjadi salah satu tanggung jawab Wirawan Kartono. Beliaulah yang seringkali menyiapkan tulisan untuk kolom KJRI di majalah ini.

Sebagai seorang Konsul Muda/Sekretaris II di bidang Protokol & Konsuler, bapak dua anak yang akrab dipanggil Pak Wira ini berkutat dengan urusan keprotokolan, keimigrasian, dan perlindungan terhadap warga negara Indonesia di wilayah Victoria.

Di bidang protokoler, ia menjalani tugas fasilitasi protokol bagi para delegasi pemerintah Indonesia yang hendak bertemu mitra kerja di Victoria dan Tasmania.

Sementara di bidang keimigrasian mencakup berbagai isu mulai dari visa, paspor, lapor diri, legalisasi, surat kuasa, dan surat keterangan barang untuk dikirim ke Indonesia.

Di bidang perlindungan WNI, yang paling menarik, adalah ia harus menjalankan tugas perlindungan terhadap WNI yang mengalami permasalahan hukum. Ia harus memberikan pendampingan sekaligus memastikan WNI telah mendapatkan hak-hak hukumnya selama menjalani proses hukum yang berlangsung di Australia.

“Keseluruhan rutinitas pekerjaan menimbulkan dimensi unik tersediri, karena kita harus terus mengedepankan asas kepedulian dan keberpihakan, terutama jika menangani kasus WNI kita yang menghadapi permasalahan hukum, mengingat cukup tingginya kasus-kasus yang kita tangani. Hingga pertengahan tahun 2013 ini saja, kita menangani lebih dari 30 kasus,” ujarnya menjelaskan dinamika sehari-hari pekerjaannya.

Tantangan yang harus dihadapinya antara lain masalah manajemen sumber daya manusia yang optimal. Mengingat bagian ini tidak hanya bertanggungjawab untuk pelayanan kekonsuleran terhadap WNI, tetapi juga kepada para WNA pemohon visa ke Indonesia. Selain itu, kasus-kasus yang harus ditanganinya terdiri dari kasus-kasus penyelundupan manusia dan WNI yang menjadi korban kejahatan. Sementara itu di fungsi konsuler, keprotokolan, imigrasi dan perlindungan, selain Pak Wira, hanya ada 5 orang lainnya yang bertugas: Bu Wita sebagai Konsul Konsuler, tiga orang staff, dan 1 staf magang.

Sebagai salah satu aspek perlindungan yang harus dijalankannya, ia menilai karakteristik masyarakat WNI di Victoria dan Tasmania. Karena hampir seluruhnya berpenddikan tinggi, ia menjalankan upaya perlindungan melalui kegiatan diseminasi informasi kekonsuleran ke berbagai unsur dan kalangan masyarakat, misalnya dalam bentuk dialog interaktif, sehingga memberikan penjelasan dan informasi hal-hal mengenai kekonsuleran.
“Sehingga diharapkan jangan sampai mendapat permasalahan hanya karena ketidaktahuan semata. Kami menyebut hal ini sebagai upaya pencegahan dalam rangka perlindungan terhadap WNI,” ujarnya.

Pak Wira dikenal sebagai salah satu petugas KJRI yang ramah, fleksibel, dan selalu siap membantu. OZIP pernah mendapat kabar anekdot tentang seorang pelajar Indonesia yang tengah berada di Melbourne, dan mendengar kabar bahwa orangtuanya masuk rumah sakit dan keadaannya kritis. Ia harus segera pulang, namun paspornya sedang berada di KJRI. Ia berhasil menghubungi Pak Wira walaupun sedang berada di akhir pekan (dan KJRI tutup), namun Pak Wira tetap mngirim staff untuk mengakses kantornya dan mengatur agar siswa tersebut bisa mengambil passportnya pada saat itu juga. Pelayanan yang seperti inilah, yang sensitif dan penuh empati, memahami nuansa dan saat-saat genting yang dihadapi WNI, yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia di Melbourne, dan hal inilah yang dilakukan oleh Pak Wira.

“Pengalaman selama tugas penempatan di KJRI Melbourne merupakan salah satu pengalaman yang sangat berkesan karena menangani permasalahan di bidang keprotokolan, keimigrasian dan perlindungan WNI yang sebelumnya belum pernah saya tangani dan pelajari karena diharuskan untuk berurusan dengan hal-hal teknis dan kemanusiaan di lapangan sehingga solusi yang diberikan tidak hanya berdasarkan pada rasio dan analisa semata namun juga harus memperhatikan aspek kemanusiaan yang tetap berada dalam jalur ketentuan yang berlaku sesuai dengan arahan dari Menteri Luar Negeri agar berpegang pada asas kepedulian dan keberpihakan dalam menjalankan tugas perlindungan.  Hal tersebut membuat saya harus banyak-banyak belajar dari berbagai sumber agar dapat melaksanakan tugas yang dipercayakan di KJRI Melbourne.

 

“Penugasan di Melbourne juga membuat saya bersyukur karena ketika di tempatkan di bidang yang benar-benar baru dengan isu dan suasana pekerjaan yang jauh berbeda dengan tugas-tugas saya sebelumnya melengkapi pengalaman saya di Kementerian Luar Negeri yang menurut pimpinan saya harus dimiliki dalam menjalani karir di Kemlu, yaitu di bidang diplomasi multilateral, diplomasi bilateral dan yang terakhir adalah menjadi pamong yang baik untuk mengayomi, melindungi dan selalu siap untuk membantu warga Indonesia yang berada di luar negeri, “ kata Pak Wira menjelaskan panjang lebar kesannya akan tugas yang diembannya di Melbourne.

 

Mungkin etos kerjanya yang baiklah yang membuat karirnya berjalan dengan mulus dan ia sudah menangani banyak hal semenjak pertama kali diterima menjadi pegawai Kemlu setelah terkesan dengan pribadi Marty Natalegawa yang diwawancarainya dalam pekerjaannya sebelumnya, ketika ia menjadi seorang jurnalis junior di SCTV.

Ya, sebelum menjadi pegawai Kemlu, ia sempat menjadi jurnalis junior di SCTV. Kisahnya bermula ketika ia mengambil jurusan Ilmu Hukum program kekhususan Hukum Internasional di Universitas Padjajaran. Sekitar 6 bulan sebelum lulus, ia telah mengirimkan banyak lamaran ke berbagai firma hukum yang menangani kasus perdata internasional dan berbagai perusahaan lainnya. Karena ia belum lulus, hanya SCTV yang memanggilnya untuk tes awal. Ia pun diterima dan memutuskan bergabung untuk mencari pengalaman kerja sebagai jurnalis di Liputan 6 SCTV. Selama menjalani pekerjaan itu, ia ditempatkan di berbagai newsdesk yang berbeda, mulai dari desk kriminal, ekonomi, sampai meliput isu politik. Kinerjanya yang bagus ketika dilibatkan dalam pemberitaan bom Kuningan membuatnya segera dipindahkan ke desk ekonomi hanya setelah 1 bulan di desk kriminal (biasanya 6 bulan di desk kriminal).

Ketika sedang ditugaskan untuk mewawancarai juru bicara Kemlu, yang waktu itu dijabat oleh Marty Natalegawa itulah Pak Wira mulai penasaran dengan Kemlu. “Saya ketika itu langsung datang ke kantor Kemlu di jalan Pejambon dan di meja resepsionis menyampaikan ingin mewawancarai Jubir Kemlu serta sudah siap untuk mendapat penolakan wawancara.  Namun, tidak disangka, oleh Pak Marty saya hanya diminta untuk menunggu sekitar 10 menit di ruangan beliau di lantai 2 yang kemudian hari saya ketahui merupakan ruangan Dirjen Kerjasama ASEAN.  Profesionalitas beliau dan sikap tanggap terhadap media memberikan kesan mendalam terutama kepiawaian beliau dalam menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan membuat saya lebih ingin mencari tahu mengenai Kemlu,” ceritanya. Menyadari adanya keterkaitan antara latar belakang pendidikannya di bidang ilmu Hukum Internasional dengan keahlian yang dibutuhkan Kemlu, ia pun mengikuti seleksi penerimaan pegawai Kemlu, diterima, dan sudah menjalani berbagai penugasan.

Walaupun penugasan penempatan di Melbourne adalah untuk yang pertama kalinya, namun ia sudah menjalani berbagai penugasan lainnya di berbagai negara di belahan dunia. Antara lain, tugas belajar di Jepang, menempuh gelar Master Ilmu Hukum di Universitas Kyushu, Fukuoka, dengan thesis bertema hukum laut yang berjudul “Kegiatan Militer di Zona Ekonomi Eksklusif.” Ia juga pernah tugas belajar di Italia untuk kursus hukum perang selama 2 minggu di International Institute of Humanitarian Law, San Remo, magang sebagai Atase Diplomatik di KBRI Washington DC, dan menghadiri berbagai konferensi di Amerika Serikat, Cina, Kenya, Malaysia dan Singapura.

 

Pengalaman yang paling berkesan untuk Pak Wira sendiri adalah ketika ia diberikan kepercayaan untuk menjadi juru runding mewakili dan memimpin delegasi Pemerintah Indonesia pada saat melakukan negosiasi naskah Project Document UNDP sebagai pelaksanaan Sulu-Celebes Sea Sustainable Fisheries Management dalam salah satu pertemuan Sub Committee on Sustainable Fisheries of Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion.

 

Pertemuan tersebut adalah perundingan rencana kerjasama di wilayah Laut Sulu dan Sulawesi yang diikuti oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, dan didanai oleh badan PBB, UNDP. “Hal tersebut berkesan karena saya merupakan anggota delegasi yang paling muda tapi diminta untuk memimpin delegasi serta melakukan negosiasi langsung perumusan naskah dengan mitra dari Malaysia, Filipina dan UNDP. Tentu saja dalam mengemban tugas tersebut, saya berpegang pada pedoman dan arahan yang telah diberikan oleh pimpinan di Jakarta,” kenangnya.

 

Pekerjaannya saat bertugas di kantor pusat Kemlu di Jalan Kejambon, memang termasuk sebagai Kepala Seksi yang menangani isu perjanjian kelautan di Direktorat Perjanjian Internasional. Ini adalah pekerjaannya yang terakhir sebelum ditugaskan di Melbourne. Ketika itulah ia banyak mendapatkan pengalaman kerja yang terkait dengan proses pembuatan naskah perjanjian internasional dan kerjasama antara Indonesia dan negara lain di dalam pemanfaatan sumber daya laut Indonesia. “Tugas saya adalah memastikan suatu kerjasama yang terjalin memenuhi unsur-unsur mengakomodir kepentingan nasional, membawa manfaat bagi rakyat Indonesia, serta sesuai dengan tata ketentuan teknis naskah perjanjian internasional, baik dalam kerangka hukum internasional maupun hukum nasional,” katanya. Selain di bagian itu, ketika bertugas di Indonesia ia juga pernah berada sebagai staf di Juru Bicara Kemlu.

 

Selama bertugas, nasihat terbaik yang pernah didapatkannya dalam karir justru didapat dari atasannya di KJRI Melbourne, Konsul Jenderal Irmawan Emir Wisnandar. “Bapak Konsul Jenderal sendiri yang mengajarkan untuk bekerja sebaik-baiknya dalam mengemban amanat yang dipercayakan dan tidak mudah patah semangat ketika mengalami berbagai hambatan serta kesulitan karena ketika kita menghadapi pintu yang tertutup berarti telah ada pintu lain yang terbuka untuk menempuh jalan baik yang telah digariskan,” ceritanya. Pak Wira menjelaskan hikayat buah berry hitam yang dijelaskan oleh atasannya tersebut. Menurutnya, seperti buah berry hitam, kita harus pandai bersyukur atas segala kemampuan yang dimiliki dan sebisa mungkin berinovasi untuk mengembangkan kemampuan diri ke arah yang lebih baik lagi serta jangan membandingkan dengan orang lan. “Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan sendiri. Tidak berarti milik pihak lain membawa kebaikan bagi kita,” ujarnya.

 

Satu hal yang juga sangat disyukuri oleh Pak Wira adalah keberadaan istri dan anak-anaknya semasa penugasan di Melbourne. Untuk menjaga hubungan dengan keluarga, sebisa mungkin ia mengatur waktu untuk mempunyai kesempatan yang cukup untuk bersama keluarga, mulai dari main video game sampai menonton film bersama-sama. Selama ini, tidak ada kesulitan berarti yang harus dialami Pak Wira dalam memberi pengertian kepada keluarga terhadap kehidupan nomaden yang dijalaninya sebagai konsekuensi pekerjaannya. Suami dari Iko Tamliha ini mengaku beruntung memiliki istri yang selalu setia mendampingi dan bersabar dalam menghadapi berbagai hal baru yang sebelumnya tidak disangka-sangka. Sebagai pasangan suami istri, mereka selalu berusaha menikmati berbagai pengalaman baru yang diterima. Kehidupan nomaden dilihat Pak Wira hanyalah sebagai sesuatu yang patut disyukuri, karena itulah kesempatan yang dimiliki untuk dapat mengalami berbagai masa kehidupan dan pengalaman di belahan dunia yang berbeda, yang membuat kita merasa menjadi warga dunia dan memperkaya pengalaman.

 

“(Lewat) hal tersebut, diharapkan dapat memberikan sudut pandang bahwa manusia diciptakan berbeda-beda tapi seharusnya kita saling mengenal. Berbagai perbedaan itu justru merupakan sesuatu yang harus dihargai dan bukannya dipersengketakan. Tentu saja pesan-pesan ini disampaikan secara implisit, melalui komunikasi rutin dalam suasana yang rileks kekeluargaan. Untuk anak, karena dua anak saya masih kecil, jadi saat ini tidak mengalami kesulitan untuk memberikan pengertian. Walaupun saya sadari untuk ke depannya, ketika anak-anak sudah cukup besar, saya harus tetap memberikan pengertian yang mendalam, apalagi kalau anak-anak sudah mulai menginjak remaja,” ujar ayah dari Gibraltar Wirawan (6 tahun) dan Aldebaran Wirawan (3 tahun) ini.

  wira3 wira4
PROJECT O GUEST STARS INTERVIEW
Featured Articles
December 5, 2013 posted by Ozip Team

PROJECT O GUEST STARS INTERVIEW

Teks: Dyota Maitri

Foto: An Geum San

 

Q & A with Amistat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

1.            Could you tell me a little bit about yourself? Where are you from and what are your roles in the band?

 

Josef: We’re twins and we grew up in Germany. I moved to Australia like a year and half ago, Jan moved here about six months ago. We make music together and we both play guitar and piano. So we’re an acoustic duo. We don’t really have a lead singer, because sometimes I sing the main part, and sometimes Jan does.

 

2.            Could you tell me about you as a duo? How long have you been playing for?

 

Jan: I started singing when I was 13 years old, and not long after that Josef started singing along with me. We then stopped doing music and did our own stuff when we finished studying. Josef went traveling and stayed in Australia, I went back home and did music with my band in Germany. And we kind of missed making music together, cause it’s different with your brother. So, we decided to make music together again, and start the whole thing together.

 

3.            I caught you several times busking in the city and drawing impressive crowds, I was just curious, how did you first get involved with busking in Melbourne?

 

Josef: When I first came here about summer last year, I was busking alone and I had a small set up in front. I made like 4 dollars, and that was my first day busking. And then Jan came here and we got a bigger set up, and we started busking on Southbank, in front of the library, and on Bourke St Mall. It’s been great busking with your own brother and knowing that a lot of young people are watching us and listening to our music.

 

4.            How is busking different from playing a music show in a music venue?

 

Jan:  You play all of the songs at least 5 times a day. You really put everything in when you play the first few songs. And then at the end of the day, when it gets to the fifth times, you’re starting to lose the spirit. And if nobody’s listening, it’s kind of frustrating and you start to feel “okay, this doesn’t feel so good”. While when you’re doing a show, people mostly know you and they are there because of you, so you can just relax and play the songs.

 

Josef: With busking, people don’t buy tickets, if they like it, they will stop and watch you, but if they don’t like it, they’ll just keep going. But it gives you more freedom, you can arrange your own set-list and time to perform.

 

5.            How would you describe you busking or stage presence?

Jan: People keep telling us that we’re funny when we talk, I don’t know why, maybe because of our accent. And we love telling stories when we perform, so people tend to listen to us more when we tell a story before playing a song. It’s not like a big show where people jumping and screaming. They would just stand or sit down and listen to us.

 

6.            Is there any particular difficulty that you face with busking?

Josef: You just get annoying people sometimes. They’re drunk and screaming at you and throwing things.

 

Jan: And we just usually ignore it, keep calm, close our eyes and be in the zone, thinking that they’re going to walk away.

 

7.            You’ve released your debut EP, called ‘It’s not Words’, could you tell me more about it?

Jan: In Germany I was writing songs on my own, and Josef did the same thing here, and Josef showed me some of his songs and I did some of mine too. And it was the hardest part, I kind of felt like killing him at that time, haha. Because I didn’t like his songs and he also didn’t like any songs that I wrote too, so we thought we had to figure the way out, otherwise I’m gonna go back to Germany. And we decided to write our first song together from there and we picked the best 5 songs to be on the EP, and named it “It’s Not Words”.

 

8.            Could you give us your thoughts on Project O?

 

Josef: It’s great, I mean we should always help people who aren’t lucky as you are. So, some people are born in other parts of the world with little possibilities to do the things that they want, so we’re here to support those people with music. We gotta enjoy the sun today, share the moment with other musicians, like Woodlock and Fox + Sui, and of course with the audience today.

 

9.            Do you have any message that you want to give to our readers?

Josef: Just believe in yourself and believe in what you’re doing, whether it’s music or anything, just keep going no matter what people tell you.

Jan: I would say in the future people should be more open to new stuff, and shouldn’t be too focused on something that only because everybody is doing it, you think it’s the right way. Don’t get too focused on money and such, try to enjoy the little things around you.

 

Q&A Fox+Sui

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

1.            Could you tell me a little bit about yourself?

 

Becky: I’m from Sydney and Andy’s from Melbourne. I started things with folk music with the guitar, and I met Andy overseas from the music academy that we were both involved in 2010. So it’s like a program that happens every year, and we didn’t know each other before. But then we got up to each other, we knew we’re both from Australia and we ended up meeting and making music together since that.

 

2.            What made you decide to finally form Fox+Sui? Did it happen instantly?

 

Andy: Yeah. It did, I mean I was making my own tracks that were going be released by myself, and I needed something new like vocals or something, so I sent them to Becky, and she started singing on them and sent it back to me while she was overseas.

 

Becky: For me, with people sending me stuff I kind of can tell instantly if I want to sing on them or not, but with Andy’s, I pretty much want to sing every stuff he’s sent me. His tracks are always easy for me to sing on, I would just sing all of them, if I was allowed to, haha.

3.            What has inspired you in making music?

Andy: I have a really specific taste in music, just from collecting records for quite a really long time, even almost more than making it. I like the idea of people trying to make pop music but with no money, like they’ve only got like 20 dollars instead of a thousand dollar studio, so it’s like attempted pop music with no money and limited equipment. And a lot of interesting music can come out from that kind of situation.

Becky: It’s funny how people keep asking us if our music is experimental because it’s weird or whatever. We’re just really trying to make pop music, but it just comes out weird. I’ve always tried to make music that I hope people will like, but sometimes it just sounds a little bit different from what we thought.

4.            For those who aren’t familiar with Fox+Sui, could you describe the music you play?

Andy: Blurry pop, I guess, like island music. In the early 90’s or 80’s there was a number of people from Europe doing a tropical music, so it’s like music inspired by tropical environment.

Becky: Music that people would make to emulate a place that’s not where they’re from. So, it’s people trying to reinterpret Brazilian and Latin music but with a European electronic context.

 

5.            Knowing that both of you come from a different musical background, could you tell me more about the recent EP you have released? How has it been?

Becky: Pretty good. We got to do a nice project and meet new people. We both got up from solo practices and ended up together, so we had to find a meeting point between what he does by himself and what I do by myself. Andy does more dance music, and I do more song based, pop music kind of style. It’s quite challenging to find that meeting point, because if one was not satisfied with their own individual pursuits, it would not work because then they’d be putting too much on their own work.

Andy: The same thing happens with this collaboration, you really have to let it happen when you’re ready to work together, cause if you want to be forceful and push something upon someone else, it’s not going to be easy, and that’s when bands break up.

6.            What sort of preparation you have you done for today’s performance?

Andy: Just some regular rehearsals. With our kind of sound you have to be constantly checking if your piece of electronic gear hasn’t died (laughs).

Becky: And also for us, it’s mainly we have to be in the right mood, we can’t force anything, even with rehearsing. So, we have to try to be in the right mood and just be ready to perform, mentally.

7.            Do you have any messages that you would like to give to our readers?

Andy: Eat well. That’s it I guess (laughs).

 

Interview with Woodlock

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tiga pria muda asal Victoria, yang terdiri atas kakak beradik Zech dan Eze Walters dan seorang teman mereka, Bowen Purcell, pergi road trip mengelilingi Australia dan memutuskan untuk membentuk sebuah band. Datang dari sebuah kota di Victoria bernama Yarrawonga, Woodlock dengan cepat menjadi salah satu band yang patut diperhitungkan. Dalam kurang dari setahun, mereka berhasil mendapatkan salah satu nominasi award dari AU Review’s Reverb sebagai Nation Artist of the Month, tour sepanjang Australia bagian East Coast, dan telah meluncurkan album mini pertama mereka, berjudul ‘Lemons’.

“Jujur aja, kita juga ga menyangka kenapa semuanya bisa berjalan begitu cepat, tapi yang pasti orang-orang yang dengan setia mendengarkan musik kita adalah push terbesar dibalik ini semua, jadi kita sangat berterimakasih,” ucap Zech.

Nunansa dongeng dapat langsung dirasakan ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu mereka. Lantunan ritme akustik sederhana namun menarik menemani para pendengar sembari menyimak kisah-kisah cinta bahagia maupun sedih yang terdapat dalam lirik. Semua itu disampaikan hanya dengan petikan gitar serta sedikit dentuman perkusi.

“We have always loved story-telling. Contohnya, beberapa lagu di mini album kita bercerita tentang zombies mencoba membunuh pacar kamu, tapi sebenarnya inti dari lagu itu adalah tentang seseorang yang jahat sama kamu, they’re like a zombie that you need to get away from,” kata Bowen.

Band yang mendeskripsikan musik mereka sebagai Stadium Folk ini mengaku bahwa banyak lagu-lagunya terinspirasi oleh The Beatles, John Mayer, Bon Iver, dan juga Coldplay. “Coldplay is a major one in a lot of ways in how they are crafty with their lyrics, sangat menginspirasi,” ujar Eze.

Menjadi salah satu musisi sukses yang mengawali karirnya melalui busking, Woodlock saat ini adalah band yang cukup dinanti kehadirannya ketika sedang berjalan-jalan di sekitar Melbourne CBD. Ketika ditanya apa yang membedakan antara busking dan tampil di acara panggung musik, trio muda ini dengan kompak menjawab, “ekspektasi”.

On the street, we are more of a discovery thing. So, when people walk and see you, they’ll be like ‘Oh, who’s this band?’ and if they like it, they’ll stay and listen to us. Tapi kalau kamu di panggung, ada sebuah ekspektasi tertentu dari orang-orang karena mereka mengenalmu, jadi kamu harus perform lebih baik,” ungkap Zech.

Eze menambahkan bahwa ekspektasi itulah yang dapat membuatnya cukup gugup saat harus tampil dalam sebuah acara musik. Namun, ia juga menyatakan kalau acara panggung musik akan selalu mereka dedikasikan untuk para pendengar setia mereka, “gigs are being set up for people who appreciate our music so much, that they’re willing to come and see us playing live while doing our originals. It’s great!” lanjut Eze.

Busking pun tidak kalah menyenangkan bagi band muda ini. Bertemu dengan banyak orang ketika tampil di jalan, menjadikan busking sebagai sebuah batu loncatan untuk Woodlock.  “Kita dapat bertemu dengan banyak orang yang baik dan asyik ketika busking, jadi tentu saja ini menjadi sebuah platform yang tepat untuk melebarkan fan base kami,” ujar Bowen.

Untuk sebuah band yang baru saja merilis mini album dan langsung mendapatkan banyak respon positif, Woodlock merupakan portrait nyata tiga sosok street buskers yang sukses. Dengan menggunakan instrumen musik yang sederhana namun lirik yang catchy, trio ini berhasil membuktikan rasa cinta mereka yang dalam terhadap musik.

The O Interview – Exclusive Interview with Kadek Mahardika
Featured Articles
August 24, 2013 posted by Ozip Team

The O Interview – Exclusive Interview with Kadek Mahardika

“Eyes on the road, Rhonda”

 

Siapa sih yang nggak tau tentang iklan si Ketut ini? Dibekali dengan kepolosannya dan plot yang lucu dalam perannya sebagai Ketut pada serangkaian iklan Ketut dan Rhonda, Kadek Mahardika mendadak jadi selebriti. Di kesempatan kali ini, Ozip dapat kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Kadek dan sharing tentang pengalamannya setelah bermain di iklan tersebut.

 

Kadek (29) sebenarnya hanya seorang pria Bali biasa yang sederhana. Hingga lima tahun lalu ia bertemu dengan seseorang di Bali. Karena penasaran dan pengen banget ke Melbourne, akhirnya Kadek memutuskan untuk pindah ke Melbourne.

 

Selama disini, dia bekerja sebagai operator kargo di salah satu perusahaan pesawat ternama. Selama bekerja disana, ia juga aktif berkumpul dengan komunitas orang-orang Bali dan Indonesia yang ada di Melbourne. Dari situ dia banyak mengenal orang-orang Indonesia di Melbourne termasuk ibu Merti yang Ozip sempat wawancara juga sebelumnya.

 

Signkat cerita, suatu hari ada sebuah tawaran untuk casting di iklan AAMI. Tapi pada saat itu, Kadek menolaknya. “Saya itu nggak bisa acting lho, saya malu kalau disuruh begituan,” demikian kata Kadek.

 

Ketika ditanya bagaimana bisa mendapat kesempatan menjadi Ketut di iklan tersebut,  Kadek bercerita bahwa awalnya dia ditawarkan oleh Ibu Merti (yang juga sempat bermain di iklan AAMI sebelumnya) untuk casting sebagai Ketut. Tapi karena malu, Kadek menolak sampai empat kali. Tetapi karena Ibu Merti bersikeras, akhirnya Kadek memutuskan untuk mencoba ikut casting.

 

“Saya itu nggak pede lho, waktu kesana saya nggak nyangka bakal diterima, saya bahkan cuma pakai baju biasa, nggak berharap apa-apa, eh tapi waktu pertama nyoba mereka langsung suka lho.”

 

Terlepas dari penampilannya yang lucu dan menghibur di iklan tersebut, Kadek mangaku tidak punya darah akting sama sekali. Tetapi bakat akting ini terlihat jelas ketika dia sedang shooting.

 

Menurutnya, waktu shooting pertama itu, skripnya tidak bagus, akibatnya sutradara dan tim harus berulang kali mengganti kata-kata di skrip. Sampai akhirnya Kadek improvisasi dan menciptakan kata-kata sendiri untuk iklan tersebut. Catch line seperti “eyes on the road Rhonda” itu ternyata dia ciptakan sendiri dan karena itu juga iklan tersebut menjadi sukses seperti sekarang ini.

 

Setelah selesai shooting, Kadek tidak berharap apa-apa dan kembali ke kehidupan biasanya. “Setelah selesai kita nggak dikabarin apa-apa, jadi nggak nyangka juga iklannya bakalan sukses, kita pikir jadinya jelek dan nggak akan diputar”.

 

Tapi tak disangka-sangka rupanya iklan Ketut ini sangat digemari oleh publik Australia. Kadek pun mendadak jadi selebritis, dengan undangan interview di radio dan majalah-majalah Australia, serta keikutsertaannya di acara amal bersama public figures lain seperti Jennifer Hawkins dan atlet AFL.

 

Kadek bahkan punya fan page sendiri di facebook dengan titel “Sexual tension between Ketut & Rhonda”. Ketika ditanya mengenai pendapatnya sehubungan dengan kesuksesannya ini, dia hanya bisa berkata “wow” dan takjub.

 

Ketika berjalan-jalan di publik, tak jarang Ketut diajak foto dengan pejalan kaki. Katanya “capek juga kadang kadang, sampai pernah saya sedang capeknya diajakin foto, akhirnya saya bilang saya bukan Ketut, saya saudaranya,” canda Kadek.

 

Ketika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan sebagai Ketut, dia bercerita tentang pengalamannya di Melbourne Cup. Ketika itu dia diutus untuk mewakili AAMI seperti biasanya. Namun dia tidak menyangka bahwa acaranya sangat ramai dan banyak sekali orang mengajak foto. Katanya “saking ramainya, saya sampai dikasih enam bodyguards.”

 

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika dia diundang ke acara untuk para pegawai AAMI. “Waktu itu mereka dikasih pilihan untuk bonus tahunan mereka, tapi mereka malah minta saya datang sebagai Ketut ke pesta mereka. Bahkan mereka pada pakai baju ‘Kiss me Ketut’.”

 

Terkenalnya Kadek ini tidak hanya berhenti di Australia. Di Bali, banyak juga orang orang yang mengenal Ketut dan bahkan berjualan baju Ketut dengan tulisan “Eyes on the road Rhonda.” “Lucunya, banyak orang nyangka saya itu tinggal di Bali.”

 

Tetapi menjadi terkenal tidak selamanya menyenangkan. Menurut Ketut dia cukup capek dengan rutinitasnya sebagai selebritis. Tak hanya bermain di iklan-iklan AAMI, tetapi Ketut juga harus datang ke acara-acara penting seperti pertandingan AFL, Tennis, atau Melbourne Cup untuk mewakili AAMI berfoto-foto dengan para fans. Menurut Kadek, walaupun capek, dia sangat bersyukur dengan kesempatan ini. “Menurut saya semua ini anugerah: Tomorrow is a mystery, yesterday was history, and today is a gift.”

 

Terlepas dari rasa capek ini, Kadek tetap bangga dan bersyukur atas apa yang dia terima. Apalagi, dengan kesuksesannya ini, Kadek punya kesempatan untuk membawa nama Bali dan Indonesia. Terlebih lagi dia punya kesempatan membantu orang-orang di Bali. Dia bercerita bahwa dari menjadi Ketut ini, Kadek bisa mengadakan acara amal bersama dengan Bali Children Foundation untuk panti asuhan yang dia buat di Bali.

 

Kadek mengaku bahwa apa yang dia dapat itu tidak begitu penting bagi dia. “Nggak dibayarpun saya nggak papa” katanya. Tetapi hal yang lebih penting baginya adalah untuk membantu Bali dan Indonesia sebisa mungkin. “Yang penting saya bisa melakukan sebisa saya untuk Bali dan bisa menghidupi anak- anak saya.”

 

Ketika ditanya rencana kedepannya apa, dia sedang menunggu kabar dari Dancing with the Stars. “Katanya kalau iklan yang selanjutnya ini sukses, mungkin saya bisa ikut di Dancing with the Stars.” Ketika ditanya mengenai kemauannya untuk terjun ke layar lebar apabila diberi kesempatan dia menjawab “Why not?”

 

Teks: Rama Adityadarma

Foto: Ineke Iswardojo

  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
Coverage
April 2, 2013 posted by OZIP Team

THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL


It was the day before my birthday and Melbourne gave me the very first present: rain.

(more…)