Category Archives: Culinary

Culinary

Culinary
December 18, 2014 posted by Ozip Team

Bisnis dan Popularitas

Daru-ozip

Kian populer produknya, makin menjamur bisnisnya di Australia. Di negara dimana industri jasanya kini tengah naik daun ini, bisnis restoran tergolong masih lumayan (jika tidak bisa dibilang amat) menjanjikan. Menilik kebutuhan dan selera makan masyarakat Australia, bisnis makanan boleh dibilang “tidak ada matinya”. Yang pasti, semua orang butuh makan. Menu masayarakat Australia semakin beragam dengan hadirnya masakan-masakan Asia. Jumlah rumah makan, depot, kedai, warung, atau apapun nama sejenisnya bernuansa Asia yang menyuguhkan masakan masing-masing bangsa terus bertambah.

 

Popularitas masakan Asia di Australia terus meningkat. Restoran-restoran Cina dan India, contohnya, banyak ditemui di berbagai wilayah, sampai yang cukup ke pelosok sekalipun. Masyarakat Australia memperoleh bermacam pilihan ragam masakan bukan hanya dari kedua negara Asia tersebut dan bisa memilih bersantap di rumah makan kelas atas hingga warung kelas take-away. Selain masakan Cina dan India, masayarakat Australia juga kian akrab dengan masakan-masakan asal Thailand, Jepang, Malaysia, Vietnam, Korea, Indonesia dan Srilangka.

 

Kalau kita mau sekedar membuat peringkat, sebagaimana termuat dalam satu blog yang didedikasikan untuk seni dan budaya Asia-Australia, diantara masakan bangsa-bangsa Asia, posisi masakan Indonesia ada di urutan bawah dalam 10 besar. Di bilangan Asia Tenggara, masakan Indonesia berada di belakang Thailand, Malaysia dan Vietnam. Masakan Thailand (setelah Cina dan India, masing-masing peringkat pertama dan kedua) dan Malaysia (setelah Jepang yang bertengger di urutan keempat) masuk 5 besar masakan terpopuler di Australia.

 

Beberapa dekade belakangan ini, popularitas masakan Thailand terlihat melejit, bersaing dengan masakan Cina dan India di Australia. Berdasarkan data yang diambil dari Universitas Sydney, jumlah bisnis restoran Thailand mencapai lebih dari tiga ribu dan seperempatnya berlokasi di Sydney. Di luar Thailand, populasi orang Thailand di Sydney tercatat terbesar kedua setelah Los Angeles, Amerika Serikat.  

 

Lantas, bagaimana halnya dengan restoran Indonesia? Jumlahnya memang ternyata tidak sebanyak restoran Thailand. Diperkirakan, jumlah restoran Indonesia di Australia tidaklah mencapai seribu. Kendati Bali adalah tujuan wisata yang lebih populer ketimbang Thailand bagi warga Australia, tetapi Indonesia tampaknya tidaklah demikian. Begitupun dengan masakan Indonesia, kurang populer dan kalah mendunia dibandingkan dengan masakan Thailand. Sementara, masakan Bali lebih tidak populer lagi dan jumlah restorannya tidak banyak pula. Padahal, letak Indonesia lebih dekat ke Australia daripada Thailand.

 

Popularitas masakan bukanlah satu-satunya yang menentukan kehadiran bisnis restoran dari negara Asia tertentu. Populasi asal suatu bangsa di Australia juga berperan dalam hal ini. Orang-orang Cina dan India adalah dua kelompok bangsa Asia terbesar. Jumlah mereka yang besar ini turut mendorong berdirinya bisnis-bisnis restoran Cina dan India di Australia. Namun, jumlah orang Thailand dan Jepang tidaklah banyak di berbagai wilayah Australia. Toh, masakan-masakan asal Thailand dan Jepang hampir menyaingi kepopuleran masakan-masakan Cina dan India.

 

Berbeda dengan restoran Cina atau India, banyak restoran Thailand dan Jepang yang dikelola dan diawaki oleh orang-orang non-Thailand dan Jepang. Orang-orang Cina dan India, selain bangsa Anglo, juga berada di belakang sejumlah bisnis restoran Thailand dan Jepang. Dari pengamatan sekilas, mereka yang bekerja sebagai manajer dan bahkan juru masak (chef) di restoran-restoran ini tidaklah selalu orang-orang Thailand dan Jepang. Sedangkan restoran-restoran khas Indonesia (atau Bali) pada umumnya dikelola dan diawaki oleh orang-orang Indonesia, yang jumlahnya juga tidak banyak di Australia. Kurangnya jumlah restoran Indonesia di negara ini dikarenakan tidak terdukung baik dari sisi popularitas masakan maupun populasi warganya.

Satu hal lain yang ikut menentukan belum cukup banyaknya restoran Indonesia dibandingkan Cina, India, Thailand, atau Jepang di Australia adalah budaya kewirausahaan di kalangan orang-orang Indonesia yang bermukim di Australia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan orang Indonesia lebih memilih menjadi profesional ketimbang wirausahawan/wati. Berbisnis memang kompleks, dan masih kurangnya popularitas dan populasi membuat persaingan tersendiri dalam bisnis restoran Indonesia di sini.

 

.

Hendrarto Darudoyo

Praktisi Bisnis

PADANG  KITCHEN – Cooking with Heart
Culinary
October 20, 2014 posted by Ozip Team

PADANG KITCHEN – Cooking with Heart

Dapur masakan Indonesia,   cita rasa masakan rumahan

Pada mulanya Dian Bahroelim, wanita Padang berusia 40 tahun datang ke Australia untuk menemani suami yang bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Western Australia.   Tinggal di sebuah kota kecil Mackay jauh dari keramaian kota Brisbane, dengan bahan-bahan yang terbatas, ia tetap berusaha menyajikan masakan Indonesia untuk suami tercinta. (more…)

Pernak Pernik Kopi
Culinary
December 7, 2013 posted by Ozip Team

Pernak Pernik Kopi

1)           World’s Coffee Destinations

2012-10-24-MainPerjalanan kopi dikabarkan bermula di Etiopia. Seorang penggembala kambing terinspirasi untuk mencoba juga makan buah kopi ketika melihat kambingnya menjadi aktif setelah mengonsumsi buah cherry kopi. Beberapa masa kemudian, kopi mulai menyebar ke Jazirah Arab. Di Arab, kopi menjadi minuman favorit. Sebagai pusatnya kopi, Arab ingin mempertahankan monopolinya. Semua biji yang diekspor, konon adalah biji yang tidak bagus agar negara lain tidak dapat berkembang dan memproduksi sendiri. Namun, kopi turut ikut kemana dakwah Islam menyebar, mulai dari Afrika Utara, daerah perbatasan Afrika dan Eropa, dan India. Legenda lainnya mengatakan, adalah seorang Baba Budan, jemaah haji dari India, yang menyelundupkan biji kopi yang subur dan bagus kualitasnya ke dalam perutnya untuk ditanam di tempat lain agar bisa memproduksi kopi sendiri. Sebelum Baba Budan, kopi tidak ditanam di tempat lain selain Arab dan Afrika.

Seperti tertulis dalam artikel Wisata karya Pak Nuim (lihat artikel “Splendour of the Sea” di edisi ini), pedagang Venisia mempunyai hubungan erat dengan dunia Islam. Begitulah kopi mulai menyebar ke Eropa, ketika pedagang Venisia melihat penduduk Turki semuanya gemar meminum kahveh, istilah kopi dalam bahasa mereka, mereka bertekad untuk memperkenalkan minuman tersebut ke Eropa juga. Kemudian Belanda ingin juga menguasai produksi kopi. Tanah Jawa yang dikuasai Belanda menjadi salah satu lokasi perkebunan kopi komersil pertama yang dimiliki oleh bangsa Eropa.

Keberhasilan Belanda, membuatnya yakin untuk memberikan hadiah tanaman kopi untuk aristokrat Eropa lainnya, seperti misalnya Perancis. Prancis yang saat itu sedang menjajah suatu pulau di Laut Karibia, juga turut membawa tanaman kopi ke Karibia. Kopi pun akhirnya ada di negara jajahan Prancis lainnya, seperti misalnya Guyana Perancis.

Kesuksesan kopi di Guyana Perancis membuat sang negara tetangga, Brazil, ingin menguasai kopi ini. Mau tahu legenda yang beredar bagaimana tanaman kopi bisa ada di Brazil? Adalah seorang Letnan Kolonel Francisco Palhetta, yang ditugaskan membawa biji kopi dari Guyana Perancis untuk ke Brazil. Cara yang diambilnya? Dengan mendekati sang istri Gubernur, Palhetta berhasil mendapatkan hadiah berupa buket bunga dan tanaman kopi untuk ditanam di Brazil!  Akhir tahun 1700-an kopi memasuki Brazil, dan sampai sekarang, Brazil tetap menduduki posisi No. 1 penghasil kopi terbesar di dunia.

 

2)           10 Negara Pengekspor Kopi Terbesar Masa Kini

Menurut International Coffee Organization, per November 2012, daftar berikut ini adalah 10 negara pengekspor kopi terbesar di dunia: Brazil, Vietnam, Indonesia (8, 25 juta kantong kopi), Kolombia, Ethiopia, Peru, India, Honduras, Mexico, dan Guatemala.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan data negara produsen kopi terbesar di dunia dari the US Department of Agriculture. Daftar tersebut dibagi dua, selain daftar total. Yaitu daftar 10 negara penghasil kopi arabica dan kopi robusta di dunia. Hanya 1 negara yang sama-sama ada di kedua daftar tersebut. Sebagai penghasil kopi biji Arabica, Brazil ada di posisi 1, diikuti oleh Kolombia dan Ethiopia. Sebagai penghasil kopi biji Robusta, Brazil pun masih di posisi 2, hanya didului oleh Vietnam.

 

3)           Beda Robusta dan Arabica

Apa perbedaan antara robusta dan arabica? Kedua-duanya sama-sama biji kopi yang digunakan untuk produksi komersil. Namun, ternyata ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Mereka berbeda dalam lingkup rasa, kondisi yang bagus untuk tumbuh, maupun harga (robusta jauh lebih murah). Biji kopi Arabica biasanya terasa lebih manis dan lebih halus, dengan keasaman yang lebih tinggi. Sementara Robusta mempunyai rasa yang lebih kuat dan keras, dengan kandungan kafein dua kali lebih banyak dari biji kopi Arabica. Banyak orang yang menganggap Robusta lebih rendah kualitasnya dari Arabica. Walaupun begitu ada beberapa jenis kopi robusta yang mempunyai aroma yang dalam dan sangat dihargai karena kualitasnya. Robusta bisa tumbuh di dataran yang lebih rendah dari Arabica, lebih cepat matang, dan menghasilkan lebih banyak hasil panen per pohon. Sementara Arabica bisa membutuhkan lebih dari setahun untuk menjadi matang. Penghasil robusta adalah negara-negara Afrika dan Indonesia, dan Arabica tumbuh di Afrika, Papua Nugini, dan sebagian besar di negara-negara Latin Amerika. Kolombia misalnya, hanya punya biji kopi Arabica. Tetapi Brazil memproduksi keduanya. Negara lainnya yang memproduksi keduanya adalah India, namun India lebih banyak memproduksi robusta.

 

4)           World’s Barista Championship – what does it mean?

Apa yang harus Anda lakukan untuk memenangkan titel World’s Barista Championship? Untuk mereka yang serius dengan kopi sebagai lahan berkarya, World’s Barista Championship sesuai dengan namanya. Kejuaraan barista dari seluruh dunia ini adalah ajang para juara pembuat kopi di negara-negara yang berbeda menentukan siapakah diantara mereka yang pantas menjadi juara di antara juara lainnya.

Di kompetisi yang pertama kali dilaksanakan tahun 2000 di Monte Carlo ini, pesertanya adalah pemenang event kopi nasional di suatu negara. Misalnya saja, Runner Up World’s Barista Championship tahun 2013 adalah Matthew Perger dari St Ali, yang memenangkan Juara I di Australian Barista Championship. Peserta lainnya antara lain Doddy Samsura, 1st Champion of Grand Final Indonesian Barista Competition 2011, dan Ryan Tan, pemegang gelar Juara Barista Singapore selama 3 tahun berturut-turut: 2011, 2012, dan 2013.

Pemenang ditentukan setelah penilaian ketat yang dilakukan oleh satu juri kepala, dua orang juri teknis, dan empat orang juri perasa. Mereka harus menyajikan tiga jenis/kategori minuman kepada masing-masing juri tersebut, yaitu espresso, cappucino, dan signature drink mereka. Selama belum menyelesaikan semua tipe minuman yang sedang dikerjakan, maka tidak bisa meneruskan ke kategori minuman selanjutnya. Waktu yang dimiliki hanya 15 menit persiapan, 15 menit performance dan 15 menit pembersihan, untuk total 12 minuman yang harus mereka sediakan. Dan selama mereka mengerjakan hal tersebut, ada dua orang juri teknis yang menilai semua yang mereka lakukan, mulai dari persiapan sampai penyajian ke juri.

 

5)           Best Coffee Places You MUST try in Melbourne

Bagaimana dengan Melbourne sendiri? Tentunya Melbourne juga dikenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk mencicipi kopi yang lezat. Ada beberapa tempat yang tidak boleh dilewatkan. Dari beberapa riset ke sumber yang berbeda, nama-nama yang muncul ternyata berulang-ulang. Kebanyakan merekomendasikan: St. Ali di South Melbourne atau saudaranya, Seven Seeds dekat University of Melbourne di Berkeley St, dan Brother Baba Budan di 359 Lt Bourke St; Dukes di Flinders Lane;  Market Lane Coffee di South Yarra, Patricia Coffee Brewers di sudut Lt Bourke & Lt William St, serta Proud Mary di Oxford Street, Collingwood. Kalau sedang jalan-jalan di Lygon Street, sempatkan datang ke Tiamo Coffee Restaurant dan Brunetti. Keduanya merupakan institusi khas Melbourne yang tidak boleh sampai dilewatkan.

explore-itineraries-three-great-days-melbourne

On Food & Australian Wine
Culinary
July 20, 2013 posted by OZIP Team

On Food & Australian Wine

Sejarah Singkat Wine Australia

 

Seringkali orang-orang berpikir bahwa Australia adalah negara yang cukup muda. Dengan demikian, industri anggurnya pun masih relatif muda. Tetapi yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Australia sudah mempunyai sejarah memproduksi anggur untuk lebih dari 150 tahun.

Stek-stek anggur dari Cape of Good Hope dibawa ke koloni penjara yang ada di New South Wales oleh Arthur Phillip melalui First Fleet tahun 1788. Sebuah percobaan pembuatan anggur dari stek-stek anggur ini gagal, tetapi kemudian dengan kegigihan, penduduk lainnya berhasil untuk mengolah stek-stek anggur ini untuk memproduksi anggur (wine). Tahun 1820, anggur yang diproduksi di Australia pun tersedia untuk dijual untuk lingkup lokal.

Tahun 1822 Gregory Blaxland menjadi orang pertama yang mengeksport wine Australia, dan merupakan pembuat wine pertama yang memenangkan penghargaan dari luar negeri.

Tahun 1830, kebun-kebun anggur kemudian dibangun di Hunter Valley. Tahun 1833, James Busby, kembali dari Prancis dan Spanyol dengan pilihan variasi anggur termasuk anggur-anggur Perancis yang paling klasik dan pilihan anggur yang bagus untuk produksi anggur yang terjaga.

Wine Australia dari Adelaide Hills dikirim ke Ratu Victoria tahun 1844, namun tidak ada bukti bahwa ia telah memesan wine Australia sebagai hasil dari pengiriman tersebut.

Kuantitas dan kualitas produksi wine Australia akhirnya meningkat pesat dengan adanya kedatangan banyak pendatang yang bukan tahanan penjara dari berbagai bagian benua Eropa, yang menggunakan keahlian dan pengetahuan mereka untuk membangun beberapa area premier penghasil wine Australia.

Industri wine Australia adalah eksporter wine terbesar di dunia, dengan jumlah eksport kurang lebih 750 juta liter per tahun ke pasar ekspor dunia dengan hanya sekitar 40 % produksi yang dikonsumsi di pasar lokal.

Wine diproduksi di setiap negara bagian, dengan lebih dari 60 area wine yang dirancang khusus untuk memproduksi wine. Jumlah total area ini mencapai 160,000 hektar. Walaupun begitu, area wine ini sebagian besar berada di bagian selatan, dimana udaranya lebih dingin.

 

Budaya & Pengetahuan Wine Australia

Ironisnya, konsumsi wine di Australia sendiri meningkat pertahunnya lebih dari 10 % dengan basis per-liter. Ini adalah angka yang cukup mengejutkan.

Seni dan gaya pembuatan wine Australia selama ini selalu dianggap berciri “Dunia Baru” namun sebenarnya sejarah wine Australia sudah cukup panjang.

Dalam 30 tahun terakhir, proses dan gaya pembuatan anggur Australia bergerak dari tendensi mengikuti selera lokal menjadi semakin mengikuti selera internasional.

Para pembuat anggur tidak lagi menciptakan trend-trend baru, walaupun tentu saja mereka akan tetap mengikuti tradisi teknologi pembuatan anggur yang diajarkan secara turun-temurun.

Setelah adanya banyak perubahan baik dalam faktor iklim, lingkungan, maupun permintaan pasar, para pembuat anggur akhirnya telah berusaha memperkuat adanya pertukaran dan komunikasi antara satu sama lain. Banyak estate wine yang lebih terkenal, ikut mengunjungi dan berpartisipasi dalam proses pembuatan anggur. Mereka menggabungkan lingkungan dan iklim lokal sebagai bagian dari pertukaran pengalaman ini, untuk memproduksi wine yang berbeda dan juga untuk bisa menunjukkan gaya-gaya yang berbeda untuk wine area tersebut. Ini juga merupakan satu alasan kenapa wine Australia populer di dunia internasional.

Menurut statistik, dari tahun 1970 sampai 1980 di Australia, selama masa pengolahan variasi wine di Australia, yang paling populer adalah Chardonnay, Cabernet Sauvignon, dan Shiraz.

Chardonnay – yang merupakan wine produksi asli Perancis (Bourgogne) –  biasanya diletakkan di oak barrel setelah melewati proses fermentasi. Lantas, ia akan meresapi oak barrel tersebut. Chardonnay mengeluarkan aroma Izumo, honey melon, dan lemon. Rasanya seperti madu dan mempunyai kekayaan selera dari pertukaran elemen barrel- nya.

Australia memproduksi sedikit Chardonnay awalnya. Pembuatannya yang simpel dan menggunakan buah segar membuatnya menjadi anggur putih berharga sangat terjangkau dan menjadi kesukaan masyarakat umum.

Sampai di awal tahun 1990-an, trend mulai berubah. Pengolahan Semillon Sauvignon Blanc akhirnya mengalahkan kepopuleran Chardonnay. Kualitas wine Semillon dan Chardonnay hampir sama. Chardonnay juga bisa dicampur dengan Semillon. Percampurannya menghasilkan aroma white wine yang kaya rasa. Pada masa itu, minuman ini sangat disambut dengan baik karena pengolahannya yang tidak memakan biaya yang mahal.

Pada awal tahun 1990-an, Sauvignon Blanc sangat laku dan menjadi populer. Ini adalah tanaman anggur yang sangat mudah ditumbuhkan dan dirawat.  Memiliki aroma bunga putih, pomegranate, dan rerumputan. Dengan aroma dan rasa buah-buahan yang kaya dan segar, tidak heran kalau hal tersebut menjadi penyebab minuman ini sangat populer di masyarakat.

Pada pertengahan 1990-an, Pinot Girls, mulai datang dari Perancis dan Italia. Aromanya memiliki hawa panas buah-buahan segar. Kualitas anggurnya dry, dengan kadar keasaman yang rendah dan rasa yang sedikit pedas, cocok untuk dikonsumsi bersama hidangan utama.

 

Matching Food & Wine – A Recommendation by Andrew Chan

San choy Bao matched with Petaluma Riesling.

SanChoyBao

San Choy Bao –

Ingredients:

Finely chopped Quail or Pork Meat (some people prefer mixed together), chopped mushroom, chopped water chestnut, chopped onion & chopped spring onion.

1/ wok seared Quail or Pork in the wok until cooked. Then add all the ingredients and seasoned to taste and sprinkle spring onion on top and served in a Lettuce Leaf.

Petaluma Riesling –

Petaluma-RieslingAroma –

Lime, Citrus aroma. Colour – Pale, yellow, golden straw.

Palate –

Good fruit structure with beautiful lime, lemon.

Good middle and with a good acid dry structure and a long lingering finish.

As you take a first mouthful of the san choy bao and then drink a sip of the Petaluma Riesling. You will notice the acid structure of the Riesling cuts through the fattiness of the San Choy Bao and lifted the mouth. Feel of the dish and enhance it by the good minerals of the wine and the finish dry acid blends in together with the lettuce, making the experience so much more memorable which you can enjoy together.

 

  • Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan
  • Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan
  • Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan
  • Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan
  • Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan
Culinary
April 2, 2013 posted by OZIP Team

Sejuta Kelezatan Indonesia dalam Satu Gigitan

Setelah satu bulan masa renovasi mereka, Bamboe Restaurant yang dinanti-nantikan kini kembali lagi ke hadiran masyarakat Melbourne. Restaurant yang berdiri pada tahun 2004 ini, tidak hanya sekedar restaurant Indonesia pada umumnya! Mengapa demikian?
(more…)