Category Archives: Coverage

Liputan

Kampoeng Merdeka 2013  – Nostalgia Kampung Halaman
Coverage
December 14, 2013 posted by Ozip Team

Kampoeng Merdeka 2013 – Nostalgia Kampung Halaman

Teks: Rama Adityadarma

Foto: Breggy Anderson

KampungMerdekaPic5Untuk kita orang Indonesia, 17 Agustus adalah hari yang spesial dan penting. Selain mengingatkan kita akan jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan kita, hari kemerdekaan juga adalah hari dimana kita bisa berkumpul bersama teman-teman kita satu kampung untuk merayakan kemerdekaan bersama melalui lomba-lomba dan acara-acara seru lainnya.

Di Melbourne sendiri, kita juga punya acara serupa dari PPIA Victoria setiap tahunnya. Acara ini mereka beri nama Kampoeng Merdeka. Kampoeng Merdeka adalah acara tahunan PPIA Victoria KampungMerdekaPic1yang secara khusus mereka adakan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

Kampoeng Merdeka tahun ini bertempat di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 18 Agustus 2013, sehari setelah upacara kemerdekaan yang diadakan di tempat yang sama.

Di Kampoeng Merdeka tahun ini, pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner Indonesia seperti batagor, lumpia, soto, nasi campur, dan empek-empek. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati penampilan musik, tari-tarian tradisional, dan dekorasi-dekorasi yang berhubungan dengan kemerdekaan.seperti dekorasi berbentuk garuda pancasila yang terbuat dari balon.

 

Sebuah acara 17 Agustusan tentu belum lengkap kalau tidak diikuti oleh lomba-lomba yang identik dengan acara pesta kemerdekaan di kampung halaman kita. Begitu juga dengan Kampoeng Merdeka tahun ini. Lomba yang diadakan tahun ini adalah lomba makan kerupuk, balap karung, balap kelereng, pensil dalam botol, dan yang terakhir dan paling menarik adalah Indonesia Pintar.

KampoengMerdekaPic3Indonesia Pintar sendiri adalah sebuah kuis dimana dua pesertanya duduk berhadapan dan satu diantara mereka harus menebak sebuah kata yang ditempatkan diatas kepala mereka. Sementara itu, peserta yang ada di seberangnya harus menjawab tiap pertanyaan dari peserta lainnya hanya dengan jawaban iya, tidak, dan bisa jadi.

Terlepas dari cuaca Melbourne yang ekstrim, pengunjung Kampoeng Merdeka tahun ini terlihat cukup padat dan menikmati acara yang sudah disusun oleh panitia. Kevin Yustian, Project Manager dari Kampoeng Merdeka sendiri puas dengan Kampoeng Merdeka tahun ini. “Saya sangat bahagia karena dengan cuaca yang buruk hari ini, masih banyak orang yang KampoengMerdekaPic4 mau datang dan bertahan mengikuti acara” ucap Kevin.

FROM DAWN TO DUSK
Coverage
December 14, 2013 posted by Ozip Team

FROM DAWN TO DUSK

Text by Pingkan Palilingan

Photo by John Purba

FDTD2 FDTD3

 

Petikan senar sasando perlahan terdengar. Dentingan piano berbunyi lembut, seraya diiringi kicauan burung. Matahari terbit di atas panggung. Entahlah, kicauan tersebut mungkin hanya sugesti belaka. Mendengar lantunan ini rasanya seperti dibangunkan di pagi hari.

 

Demikianlah gambaran opening song dari acara From Dawn to Dusk (FDTD) 2 yang diselenggarakan tanggal 10 Agustus lalu. FDTD adalah pertunjukkan musik yang menampilkan kreasi paduan musik tradisional dan modern. Tahun ini adalah tahun kedua diselenggarakannya FDTD yang bertajuk Indonesian Music Adventure.

 

Layaknya pertunjukkan tahun lalu, FDTD 2 dibawakan oleh Indonesian Melbourne Music Network. Namun, kali ini FDTD memperkenalkan sejumlah penampilan dari beberapa music performers; seperti St. Francis Youth Choir, Paguyuban Pasundan Melbourne, Mahindra Bali, serta murid-murid angklung dari Loyola College.

 

Bertempatkan di Melbourne City Conference Centre (MCCC), FDTD 2 menampilkan 11 lagu. FDTD membawa penonton mengalami petualangan musikal dari bagian timur ke bagian barat Indonesia. Sejumlah daerah serta etnis yang diperkenalkan di dalam pertunjukan adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Kalimantan, Sunda, Betawi, Aceh, serta Batak.

 

Acara dibuka dengan persembahan sebuah lagu dari St. Francis Youth Choir, yang kemudian dilanjutkan dengan permainan lagu berjudul Komodo Dragon. Komodo Dragon menceritakan tentang hewan endemik Pulau Komodo, NTT. Petikan Sasando yang dialunkan Ipank Lay, menyiratkan betapa elegannya hewan yang begitu kuat namun terancam punah ini.

 

Fitur spesial FDTD adalah kehadiran instrumen tradisional. Mulai dari alat musik yang cukup dikenal secara umum seperti gamelan, kecapi suling, angklung, kolintang; hingga alat musik yang kurang familiar yakni sasando, serunai dan erhu.

 

“Sasando memang original dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya dari [Pulau] Rote,” ujar Ipank, yang mampu membuat hati penonton merasa damai melalui petikan sasandonya. Jika ada satu hal yang membuat penonton penasaran, itu adalah bagaimana bisa instrumen yang begitu besar dan berbentuk unik tersebut dibawa ke Melbourne? “Orang pada nanya, [tapi saya] bilang aja alat musik tradisional. Mereka [customs] kasih, sih,” katanya tersenyum.

 

Tak sia-sia usaha Ipank membawa instrumen kesayangannya ke Melbourne, karena kehadiran instrumen tradisional yang memberi bumbu bagi FDTD.

 

Yang membuat FDTD menjadi lebih unik lagi ialah perpaduan antara musik tradisional dan modern. Sebagai contoh adalah lagu Kidung Sunda yang dihiasi permainan kendang serta suling. Kehadiran kedua instrumen tersebut membuat lagu ini terasa kental dengan nada Sunda-nya. Hanya saja, berkat keterampilan musik dari komposer Randy Enos Hallatu, Kidung Sunda diwarnai dengan ritme jazz.

 

Yang paling memorable adalah lagu Aceh 2004 yang menceritakan kepedihan bencana tsunami yang membinasakan 170,000 jiwa. Alunan pelan piano ditemani pemutaran video yang menjadi saksi dari bencana tersebut mengundang kesunyian mencekam dari bangku penonton. Pada pertengahan lagu, terdengarlah lantunan serunai – instrumen musik asli Aceh – yang suaranya memilukan hati penonton.

 

Pertunjukkan tak sepenuhnya musik. Contohnya adalah BaVa Rhytm, yakni pertunjukkan ‘Rampak Kendang’ yang dibawakan Paguyuban Pasundan Melbourne. ‘Rampak Kendang’ adalah sebuah pertunjukkan dimana berbagai macam instrumen musik – khususnya instrumen khas Sunda – dimainkan untuk menciptakan harmoni ritmis. BaVa Rhytm dibawakan oleh tiga orang penabuh kendang yang menyisipkan humor di sepanjang penampilan tersebut. Penonton dibuat tertawa oleh ketiga pemain yang berusaha berbicara Bahasa Inggris dengan aksen Sunda kental. Di pertengahan pertunjukkan, muncul sesosok lelaki yang mempertontonkan jurus-jurus Pencak Silat diiringi tabuhan kendang.

 

Berbicara mengenai humor, pembicaraan tak bisa lepas dari Randy Enos Hallatu. Pria yang akrab dipanggil Enos ini, dengan piawai mewarnai pertunjukkan beberapa lagu dengan humornya. Enos adalah music director serta salah satu komposer dari lagu yang ditampilkan. Melalui humornya, Enos berhasil mengundang tawa penonton di akhir lagu. Ia juga mengajak penonton untuk bertepuk tangan sesuai dengan ritme lagu. Enos yang sudah 19 tahun malang melintang di dunia musik rindu agar masyarakat lebih menghargai musik.

 

“Mari kita lihat musik sebagai sesuatu yang bisa kita tekuni, sesuatu yang sebenarnya bisa kita kerjakan sebagai pekerjaan,” papar Enos yang cukup prihatin terhadap masyarakat yang seringkali merendahkan musik sebagai mata pencaharian. “Let us appreciate artists,” ujarnya. Menurut Enos, musik merupakan sebuah industri yang dapat menciptakan lapangan kerja baru.

 

Layaknya pertunjukkan besar lainnya, Leon Sutedja, Project Manager, mengaku menemui tantangan besar dalam persiapan FDTD tahun ini. Tantangan tersebut yakni kesulitan mendapatkan human resource yang cukup. Berbeda dari tahun lalu, FDTD kali ini memiliki skala yang lebih besar; maka dari itu, membutuhkan SDM yang lebih lagi menurut Leon.

 

Akan tetapi, tantangan tersebut berhasil direngkuh. Penonton antusias menyambut lagu Would You Dance With Me? yang menutup FDTD. Enos mengajak penonton untuk menyanyikan melodi sederhana yang dicocokkan dengan ritme gamelan, kendang, tifa, serta instrumen modern seperti keyboard dan gitar. Konfeti ditembakkan. Penonton bersorak. FDTD telah selesai, namun lantunan melodi tersebut tetap bergema di hati penonton.

KULIAH UMUM WAPRES BOEDIONO DI MONASH UNIVERSITY
Australia Events
December 13, 2013 posted by Ozip Team

KULIAH UMUM WAPRES BOEDIONO DI MONASH UNIVERSITY

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada tanggal 15 November, Monash University kedatangan seorang tamu terhormat yang merupakan salah satu sosok penting di Indonesia, yaitu Wakil Presiden (Wapres) Boediono.

 

Bertempatan di Clayton Campus, ratusan mahasiswa dan juga pengajar memenuhi Alexander Theater untuk mendengarkan kuliah umum dari Wapres yang juga merupakan alumni program pascasarjana di Monash University.

 

 

Kehadiran Boediono pun disambut hangat oleh Menteri Pendidikan Australia, Christopher Pyne. Australia yang telah resmi menjadi pusat studi untuk Australia-Indonesia, diyakini Pyne dalam kata sambutannya sebagai bentuk usaha yang baik untuk meningkatkan hubungan dan pemahaman objektif antara Indonesia dan Australia.

 

Sejalan dengan hal tersebut, pendidikan dan inovasi menjadi topik utama yang banyak dibahas oleh Boediono pada kuliah umumnya hari itu. Ia mengatakan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk dapat menghindari apa yang sering disebut sebagai middle income trap, yaitu dimana suatu negara terjebak pada suatu level income dan mengalami stagnasi ekonomi.   

 

Meningkatkan daya saing di tengah-tengah middle income trap, adalah salah satu langkah penting dalam memajukan pembangunan nasional. Boediono mengatakan bahwa saat ini, Indonesia mengalami kesulitan dalam berkompetisi dengan negara-negara berkembang maupun negara maju.

 

Hal ini mengingatkan bahwa kita berada dalam kehidupan yang kompetitif. Kita harus memiliki daya saing yang tinggi untuk dapat berkembang, untuk dapat memperkuat kemampuan, produktivitas, dan kesejahteraan nasional,” ujarnya.

 

Boediono juga memaparkan bahwa pendidikan dan inovasi merupakan komponen penting untuk menghindari lubang middle income trap. Kondisi sekolah, sistem edukasi, dan akses menuju pendidikan yang masih cukup minim di Indonesia merupakan beberapa hal yang menjadi perhatian Boediono.

 

“Ada sejumlah kebijakan dan inisiatif yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Kurangnya akses dan kualitas pendidikan di banyak daerah, memacu kita untuk menemukan jalan keluar yang lebih inovatif,”

 

“Salah satunya dengan memanfaatkan laju teknologi yang pesat. Sebagai contoh adalah online learning system yang dapat menjangkau daerah terpencil dan tidak mengeluarkan biaya yang banyak,” ungkap Wapres.

 

Selanjutnya, Boediono percaya bahwa dalam memperkuat kesejahteraan dan keamanan nasional, dibutuhkan sebuah hubungan baik dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Australia.

 

Dalam sejarahnya, hubungan Indonesia dan Australia sendiri memang tidak terlepas dari konflik. Isu-isu seperti pencari suaka, impor daging sapi, hingga sampai pada masalah penyadapan Australia dan AS terhadap Indonesia, sepertinya membuat ketegangan antara dua negara ini semakin memanas.

 

Menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa mengenai hubungan Indonesia dan Australia yang mengalami pasang surut, Boediono menuturkan bahwa hal ini terjadi karena Indonesia dan Australia terletak berdekatan satu sama lain.

 

“Kita harus dapat menemukan jalan keluar yang baik untuk masing-masing negara— menjalin sebuah komitmen kerjasama untuk menjadi dua negara tetangga yang rukun dan berpengaruh positif bagi semuanya,”ujar dia.

 

“Saya ingin mengutip sebuah ucapan, ‘you can choose your friends, but you cannot choose your neighbors’,” kata Boediono pada penghujung acara yang disambut tawa para penonton.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPaul Thomas, Ketua Program Kajian Indonesia di Monash University, seusai acara memaparkan bahwa ia senang mendapat kesempatan untuk mendengarkan gagasan Boediono.

 

“Hubungan Australia dan Indonesia memang sedang pasang surut, namun dengan adanya pusat kajian Indonesia dan Australia yang baru diresmikan Bapak Boediono, sepertinya sudah terlihat kerangka resmi yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan kedua negara tersebut. Kerangka ini akan menjadi perantara yang cukup baik untuk hubungan Indonesia dan Australia,” ujarnya.

 

Hal yang sama pun disampaikan oleh Anita Dewi, seorang pustakawan dari Monash University Asian Studies Research Collection, yang turut menyaksikan kuliah umum pada pagi itu. Ia mengatakan bahwa terlepas dari isu politik, kedatangan Wapres Boediono ke Monash University dapat memperjelas arah kerja sama antara Australia dan Indonesia dalam bidang pendidikan.

 

Anita Dewi“Saya berharap akan ada benar-benar bentuk usaha pada level praktis, dimana ada kerja sama nyata yang bukan sekedar pada white paper. Dan yang terpenting adalah penelitian dan aplikasi pendidikan yang bermanfaat untuk dua arah,” ungkap Anita Dewi.

 

Sementara itu, Monash University sendiri merupakan kampus ketiga yang dikunjungi Boediono selama kunjungan kenegaraannya di Australia. Sebelumnya, ia tiba di Perth untuk menghadiri beberapa undangan, salah satunya dari University of Western Australia.

 

Kemudian, Boediono bertolak ke Canberra untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Kunjungannya ke Canberra juga memenuhi undangan sebagai tamu terhormat Australian National University dalam penganugerahan dirinya sebagai doktor honoris causa di bidang ilmu sosial.

 

Agenda Wapres Boediono di Melbourne akan dilanjutkan dengan menghadiri Forum Bisnis Australia-Indonesia di Melbourne yang akan didatangi oleh sejumlah pengusaha terkemuka Australia.

 

Boediono dan rombongan dijadwalkan kembali ke Indonesia pada Sabtu 16 November 2013.

Australia Events
December 13, 2013 posted by Ozip Team

KUNJUNGAN WAKIL PRESIDEN BOEDIONO KE MELBOURNE

 

Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono dan istrinya ibu Herawati Boediono baru saja melakukan kunjungan ke tiga kota di Australia termasuk Melbourne pada bulan November 2013 ini. Kunjungan kerja kali ini sekaligus dilakukan oleh bapak Boediono untuk memenuhi undanganKunjungan Wapres (16 of 21) National University di Canberra dalam acara penghargaan gelar Honorary Doctorate yang diberikan kepada beliau atas hasil kerja kerasnya dan kontribusinya untuk ANU. Merupakan sebuah kebanggaan untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk memiliki seorang pemimpin yang kemampuan akademisnya diakui secara internasional oleh universitas dengan reputasi yang cukup tinggi dan diakui oleh khalayak ramai.

Pada kunjungannya ke Australia tahun ini, Bapak Boediono mengunjungi tiga kota besar yaitu Perth, Kunjungan Wapres (13 of 21)Canberra, dan Melbourne. Beliau mengadakan kuliah umum di ketiga kota tersebut dengan topik hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. Selain itu, Wakil Presiden Boediono juga memiliki agenda untuk bertemu dengan Prime Minister Tony Abbot dan beberapa petinggi pemerintahan Australia untuk membicarakan isu seperti Asylum Seeker.

Kunjungan Wapres (20 of 21)

 

 

Kunjungan yang diselenggarakan di Melbourne sendiri diadakan pada 14 November 2013 di rumah dinas KJRI Melbourne yang bertempat di Brighton. Acara dihadiri oleh sekitar 100 warga negara Indonesia yang tinggal di Melbourne, perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat disini, dan juga beberapa warga lokal Australia yang memiliki hubungan dan ketertarikan yang kuat dengan Indonesia.

Acara yang berlangsung selama dua jam ini diawali dengan laporan dari Bapak Emir selaku Konsulat Jenderal untuk Indonesia di Melbourne. Beliau melaporkan rangkaian kegiatan warga Indonesia di Melbourne, berikut juga dengan data jumlah warga negara Indonesia dan jumlah organisasi masyarakat yang ada di Melbourne.

Acara yang juga dihadiri oleh bapak duta besar Nadjib Riphat Kesoema dan beberapa menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu II ini kemudian Kunjungan Wapres (21 of 21)dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Boediono sendiri. Dalam pidatonya, Wapres mengutarakan,

“Pentingnya menjalin hubungan baik antara Indonesia dan Australia, dan bahwa kita sebagai warga negara Indonesia yang

menetap disini memegang peranan penting dalam melesarikan hubungan tersebut.”

Setelah sambutan dari Wapres selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan para warga yang hadir di tempat. Topik diskusi antara lain melingkupi laporan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang baru dibentuk maupun yang sudah lama dibentuk.

Kunjungan Wapres (9 of 21)Salah satu bahan pembicaraan yang muncul adalah mengenai eksport bahan pabrik dari Indonesia dan juga buruknya kualitas serta jangka waktu pengiriman yang saat ini sedang terjadi. Hal ini dicemaskan oleh beberapa warga yang ada disini karena keinginan besar mereka untuk memanfaatkan barang produksi Indonesia tetapi karena isu tersebut kemudian memilih untuk membeli barang dari negara lain. Bapak Boediono sendiri menanggapi ini dengan menjelaskan perkara yang sedang dihadapi pabrik produksi Indonesia. Menurutnya, proses produksi dan distribusi untuk barang eksport sendiri saat ini sedang dikembangkan. Beliau berharap bahwa dalam beberapa tahun kedepan, kualitas produksi dan distribusi barang Indonesia akan meningkat.

Setelah sesi diskusi selesai, Bapak Boediono kemudian mengundurkan diri untuk kembali ke rumah kediaman sembari menyalami dan berbincang singkat dengan para tamu. Acara kemudian diakhiri dengan makan malam bersama dan ramah tamah.

Kunjungan Wapres (5 of 21) Kunjungan Wapres (8 of 21)

Kunjungan Dubes
Melbourne Events
April 2, 2013 posted by OZIP Team

Kunjungan Dubes


Pada tanggal 28 Januari 2013 yang lalu, masyarakat Indonesia di Melbourne boleh berbangga hati. Pasalnya Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia yang baru, Bapak Duta Besar Nadjib Riphat, menyempatkan bertandang ke Melbourne untuk berkenalan dan bertemu muka dengan masyarakat Indonesia di Melbourne.

(more…)

  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
  • THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL
Coverage
April 2, 2013 posted by OZIP Team

THE WONDERFUL WORLD OF CIRQUE DU SOLEIL


It was the day before my birthday and Melbourne gave me the very first present: rain.

(more…)